Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

3 Daerah di Sulawesi Utara Memiliki Jalan Rusak Parah Terpanjang

jalan rusak parah terpanjang ada di Kabupaten Boltim. Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolmong.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Handhika Dawangi
Kolase/Tribun Manado/Nielton Durado/Sujarpin Dondo
(Foto Kanan) NYARIS PUTUS - Jalan Rusak di Jalur Atoga di Kabupaten Boltim yang nyaris putus. Foto Jumat 18 April 2025.(Foto Kiri) TIMBUN JALAN - Komunitas Sopir dan warga yang gotong royong melakukan penimbunan jalan berlubang di Desa Konarom dan Dumoga Empat Bolmong Sulut Foto Senin 21 April 2025. 

MANADO, TRIBUN - Lebih dari 2.300 kilometer jalan di Sulawesi Utara tergolong rusak berat. Dari 15 kota dan kabupaten di Sulut, tiga daerah memiliki jalan rusak parah terpanjang. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, jalan rusak parah di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur berada pada urutan teratas, yakni sepanjang 416 kilometer (Km).

Disusul Kabupaten Minahasa Tenggara sepanjang 368 Km, Kabupaten Bolaang Mongondow sepanjang 298 Km.

Daerah-daerah lainnya dengan panjang jalan rusak berat yakni Kabupaten Minahasa Selatan 269 Km, Kabupaten Minahasa 225 Km, Kabupaten Minahasa Utara 123 Km. Lalu Kabupaten Kepulauan Sangihe 111 Km dan Kota Tomohon 110 Km.

Adapun daerah dengan panjang jalan rusak terpendek yakni Kabupaten Bolmong Utara 35 Km, Sitaro 40 Km, Kota Manado 44 Km dan Kota Bitung 51 Km.

Sebagai gambaran, panjang jalan rusak terpendek tersebut masih lebih panjang dibandingkan jarak antara Kota Manado dengan Kota Tomohon yakni 25 Km. 

Sementara untuk jalan rusak terpanjang, melebihi jarak terjauh Manado dengan Boroko, Bolaang Mongondow Utara, yakni 276 Km.

Kabupaten Boltim tidak hanya memiliki wilayah terpanjang jalan rusak, tapi juga jalur ekstrem yang telah memakan 2 korban dalam empat bulan pada 2025 ini. 

Yakni jalur Atoga yang menjadi jalan penghubung dari Kotamobagu atau Modoinding, Minahasa Selatan, menuju Tutuyan, ibu kota Boltim. Menurut catatan Satlantas Polres Boltim, sudah ada 6 peristiwa lakalantas di jalur itu.

"Tapi ada juga kejadian lakalantas yang tidak dilaporkan ke kami jadi kemungkinan angkanya bisa lebih banyak lagi," ujar Kasat Lantas Polres Boltim Iptu Fitri Nugrahani, Minggu (20/4/2025).

Jalur ekstrem Atoga berupa jalan menanjak dan menurun, berkelok-kelok. Saat pagi hingga siang jarak pandang terhalang kabut, sementara saat malam tanpa penerangan lampu jalan.

Ekstremnya jalur ini juga diperparah dengan kondisi jalan rusak. Ada beberapa titik jalan yang ambrol nyaris separuh lebar jalan, dengan pembatas yang terlepas. 

Chandra Mokoagow, warga Dumoga, Bolmong, yang sering melintasi jalur itu berharap Pemkab Boltim harus mengambil langkah cepat. "Kami takut akan putus total. Harus segera diperbaiki," kata dia.

Apabila jalan tersebut putus, lanjut dia, akan berdampak pada aktivitas di ibu kota Kabupaten Boltim. "Banyak masyarakat atau ASN dari Kotamobagu tak akan bisa bekerja di Boltim," ungkapnya.

Kadis Pembangunan Umum (PU) Kabupaten Boltim Harris Sumanta mengatakan pihaknya akan segera melakukan perbaikan di jalan tersebut. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved