Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Wajib Tahu

Ini Alasan Kenapa Dokter, Dosen, dan Polisi Justru Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Deretan kasus ini menambah daftar panjang pelaku kekerasan seksual yang berasal dari profesi-profesi yang justru identik dengan kemanusiaan

|
Tribun Lampung/Dody Kurniawan
WAJIB TAHU - Ilustrasi pelecehan seksual. Ini Alasan Kenapa Dokter, Dosen, dan Polisi Justru Jadi Pelaku Kekerasan Seksual? 

"Power asymmetry alias relasi kuasa yang tidak berimbang itulah yang menjadi penyebab mengapa ada pelaku, mengapa ada korban," kata Reza saat diminta pandangan Kompas.com pada Minggu (13/3/2025).

Kedua, teori sosial melihat fenomena ini sebagai produk dari industri hiburan dan media yang sudah terlalu sering menampilkan narasi vulgar hingga membuat publik kehilangan sensitivitas terhadap nilai-nilai sakral seputar seksualitas.

Ketiga, dari sudut pandang teori evolusi, kekerasan seksual bisa dilihat sebagai dorongan primitif untuk mempertahankan keturunan, meski jelas tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun moral.

Faktor pendorong

Dalam kasus dokter PPDS Unpad pemerkosa keluarga pasien, Reza menyebut bahwa faktor pekerjaan bisa turut memengaruhi.

Menurutnya, profesi seperti dokter dikenal memiliki beban kerja tinggi, jam kerja panjang, rutinitas membosankan, dan tekanan mental yang besar.

“Dalam situasi seperti itu, seks bisa dianggap sebagai bentuk kompensasi atas kejenuhan yang menumpuk,” jelas Reza.

Namun selain faktor pemicu, ada pula faktor penarik, yakni peluang dan lemahnya pengawasan.

Reza mengatakan, degradasi moral dalam beberapa tahun terakhir bisa membuat pelaku merasa punya ruang untuk bertindak, apalagi saat etika tak lagi dijunjung tinggi dan sistem pengawasan melemah.

“Ketika etika ditinggalkan dan pengawasan longgar, di situlah celah dimanfaatkan oleh pelaku untuk mencari kepuasan pribadi, bahkan lewat cara yang melanggar hukum,” ujar Reza.

Kondisi ini mempertegas perlunya sistem perlindungan dan pengawasan yang kuat, terutama di lingkungan yang memiliki ketimpangan kuasa tinggi antara individu, seperti rumah sakit, kampus, institusi keagamaan, dan kepolisian.

Fakta dari Penelitian dan Studi

  1. UN Women & WHO: Kekerasan seksual sangat rentan terjadi dalam hubungan di mana ada dominasi dan kontrol. Dalam konteks profesional, pelaku kerap memanfaatkan status atau kepercayaan yang diberikan oleh korban.

  2. Komnas Perempuan (Indonesia): Dalam Laporan Tahunan 2022, banyak kekerasan seksual yang dilaporkan terjadi di institusi pendidikan dan tempat kerja, dengan pelaku berposisi lebih tinggi secara struktural. Ini menunjukkan adanya pola relasi kuasa yang dimanfaatkan untuk melakukan kekerasan seksual.

  3. Penelitian akademik (Misalnya, oleh Sara Ahmed & Michel Foucault): Menunjukkan bahwa kekerasan seksual bukan hanya soal hasrat seksual, tapi juga soal kekuasaan dan kontrol. Pelaku mencari kepuasan dari menundukkan korban secara fisik dan psikologis.

  4. Studi di Lingkungan Pendidikan Tinggi: Banyak kampus yang jadi tempat subur kekerasan seksual karena ada hierarki yang jelas antara dosen dan mahasiswa, ditambah lagi dengan budaya diam dan minimnya perlindungan terhadap korban.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved