Breaking News
Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gempa di Myanmar

Fakta Gempa di Myanmar, Ratusan Orang Tewas, Junta Militer Tetap Menyerang

Namun, laporan menunjukkan bahwa junta militer tetap melanjutkan serangan udara di daerah yang dikuasai oposisi.

Tayang:
Editor: Alpen Martinus
AFP/SAI AUNG MAIN
GEMPA: Kolase foto bangunan runtuh akibat gempa. Alat berat konstruksi digunakan untuk menggali reruntuhan saat orang-orang mencari korban selamat di sebuah bangunan yang rusak di Mandalay pada 29 Maret 2025, sehari setelah gempa bumi melanda Myanmar bagian tengah. Tim penyelamat menggali reruntuhan bangunan yang runtuh pada 29 Maret dalam pencarian korban selamat setelah gempa Myanmar dan gempa Thailand menewaskan lebih dari 1.000 orang. Junta Militer tetap lakukan serangan udara 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Gempa bumi 7,7 SR cukup mengejutkan masyarakat Myanmar.

Banyak korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Pun banyak gedung yang runtuh.

Baca juga: Gempa Myanmar - Thailand: Banyak yang Tidur di Luar Rumah karena Takut

Meski sedang bencana alam, namun konflik antaran junta militer dan National United Government (NUG) tetap berlangsung.

Padahal ada ribuan korban meninggal dunia di Myanmar.

Hingga saat ini jumlah korban meninggal masih bertambah.

Lebih dari 1.600 orang telah dipastikan tewas setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang pusat Myanmar pada Jumat lalu (28/3/2025).

Menurut laporan dari junta militer yang menguasai negara tersebut, jumlah korban tewas telah mencapai 1.644, dengan 2.376 orang terluka dan 30 lainnya masih hilang.

Gempa yang berpusat dekat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, terasa hingga ke China dan Thailand, meruntuhkan banyak bangunan di wilayah tersebut.

Thailand melaporkan enam kematian, 26 cedera, dan 47 orang hilang, banyak di antaranya terperangkap di bawah gedung tinggi yang sedang dibangun di dekat Pasar Chatuchak di Bangkok.

Junta militer Myanmar telah mengumumkan keadaan darurat, sementara National United Government (NUG), kelompok oposisi yang diusir pada 2021, menyatakan akan menghentikan semua aksi militer ofensif selama dua minggu mulai Minggu untuk mendukung upaya penyelamatan.

Namun, laporan menunjukkan bahwa junta militer tetap melanjutkan serangan udara di daerah yang dikuasai oposisi.

Menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa ini terjadi pada kedalaman 62 mil dan diikuti oleh gempa susulan berkekuatan 6,4.

Sementara itu, gambar satelit menunjukkan kerusakan parah, termasuk runtuhnya menara kontrol lalu lintas udara di Bandara Internasional Naypyidaw, yang mengakibatkan satu staf tewas.

Operasi kemanusiaan terhambat oleh kerusakan infrastruktur, dengan jalan-jalan utama dan jembatan yang hancur.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved