Breaking News
Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan 2025

Fenomena 2 Gerhana Akan Terjadi di Bulan Ramadhan 2025, Berikut Lokasi dan Dampaknya

ada dua fenomena astronomi bakal menghiasi langit di bulan Ramadhan 2025 atau 1446 Hijriah.

Warta Kota/Alex Suban
GERHANA BULAN: Fenomena 2 Gerhana Akan Terjadi di Bulan Ramadhan 2025, Berikut Lokasi dan Dampaknya 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabar baik bagi masyarakat indonesia khusunya yang tengah melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan ini.

Pasalnya ada dua fenomena astronomi bakal menghiasi langit di bulan Ramadhan 2025 atau 1446 Hijriah.

Fenomena ini disampaikan langsung oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Baca juga: Segini Besaran Nominal THR yang Akan Diterima Pensiunan PNS, Golongan IV Terima Rp 4.957.008

Thomas Djamaluddin mengatakan dua fenomena langit itu adalah Gerhana Bulan Total dan Gerhana Matahari Sebagian.

Dilansir dari laman BRIN, Gerhana Bulan Total adalah fenomena terhalangnya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak sampai ke Bulan. Peristiwa ini terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan berada di posisi sejajar.

Sementara itu, Gerhana Matahari Sebagian adalah fenomena ketika sebagian Matahari tertutup oleh Bulan. Hal ini terjadi ketika Bulan lewat di antara Matahari dan Bumi?

Lantas, kapan fenomena gerhana itu terjadi di bulan suci Ramadhan 2025?

Dua gerhana di bulan Ramadhan 2025

Lebih lanjut, Thomas menerangkan bahwa dua fenomena gerhana di bulan Ramadhan itu akan terjadi secara bergantian.

"Gerhana Bulan Total terjadi pada 14 Maret 2025, sedangkan Gerhana Matahari Total pada 29 Maret 2025," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (6/3/2025).

Gerhana Bulan Total terjadi akibat pergerakan posisi Bulan-Matahari-Bumi yang sejajar sehingga membuat Bulan masuk ke umbra Bumi.

Saat puncak Gerhana Bulan Total terjadi, bulan akan terlihat berwarna merah.

Hal ini karena spektrum warna dengan panjang gelombang lebih pendek seperti ungu, biru dan hijau dihamburkan ke angkasa, sedangkan spektrum dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah, jingga dan kuning diteruskan ke pengamat.

Namun, Gerhana Bulan Total juga bisa menyebabkan Bulan seolah berwarna kecoklatan jika partikel seperti debu vulkanik ikut menghamburkan cahaya.

Sementara itu, Gerhana Matahari Sebagian terjadi ketika Bulan lewat di antara Matahari dan Bumi, tetapi tidak sejajar dengan sempurna.

Lantaran hanya sebagian Matahari yang tertutup, gerhana ini menghasilkan bentuk serupa Bulan sabit.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved