Breaking News
Senin, 8 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Catatan Seorang Jurnalis: Naga Kuning

Tahun 1950, sejumlah warga Tionghoa di bawah pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) mendirikan Klub Sepak Bola Naga Kuning (Huang Lung).

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Isvara Savitri
Tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
KAMPUNG CINA - Kampung Cina, Manado, Sulawesi Utara, di malam hari, Selasa (4/2/2025). Tim Sepak Bola Naga Kuning lahir di sana. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Jangankan lapangan sepak bola, tanah lapang pun tak ada di Kampung Cina Manado, Sulawesi Utara (Sulut) saat ini.

Seluruh areanya dipenuhi gedung pertokoan. 

Tak ada aktivitas sepak bola, warga semua sibuk berdagang.

Siapa sangka puluhan tahun lalu, sepak bola pernah jadi semangat hidup warga Kampung Cina.

Tahun 1950, sejumlah warga Tionghoa di bawah pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) mendirikan Klub Sepak Bola Naga Kuning (Huang Lung).

Hadirnya klub itu menyemai bibit sepak bola profesional di Kota Manado.

Lebih jauh, klub itu merupakan embrio Persma Manado.

Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut Sofyan Jimmy Yosadi menuturkan, berdirinya klub tersebut tak lepas dari iklim sosial saat itu, banyak warga Tionghoa yang menggeluti sepak bola.

"Antusiasme itu ditangkap oleh Nyong Loho dengan membentuk klub sepak bola," kata dia.

Seperti lazimnya warga Tionghoa, hal memberi nama sangat penting. 

Nama berkaitan dengan keberuntungan.

Loho memilih nama Huang Lung (Naga Kuning) untuk klub itu.

"Naga artinya besar sedang kuning adalah warna kaisar yang artinya megah. Jadi artinya sesuatu yang besar dan megah," kata dia.

Sesuai namanya, Naga Kuning langsung melejit sebagai klub sepak bola terkuat dan profesional kala itu.

Berbagai lomba mereka menangkan, sejumlah atletnya ikut tim nasional.

."Ada atlet yang ikut Ganefo," kata dia.

Nyong Loho yang juga dikenal sebagai atlet multitalenta berhasil meniupkan nafas profesionalisme dalam klub itu.

Para pemain Naga Kuning menjadikan sepak bola sebagai profesi.

"Mereka latihan keras, menjaga kebugaran tubuh, semua serius menggeluti bola. Tak ada profesi lain," kata dia.

Selain menyemai bibit sepak bola profesional, Naga Kuning juga menyemai bibit pembauran.

Naga Kuning membuka pintu untuk pemain dari semua suku di Manado.

Suasana Kampung Cina Manado Sulawesi Utara di malam hari jelang hari raya imlek 2025
Suasana Kampung Cina Manado Sulawesi Utara di malam hari jelang hari raya imlek 2025 (Arthur Rompis/Tribunmanado)

"Mereka berbaur tanpa sekat, di kepala mereka hanya ada pikiran bagaimana menjebol gawang lawan," kata dia.

Naga Kuning punya banyak pendukung yang kebanyakan bukan orang Tionghoa."

Hingga kini, nama Naga Kuning masih melekat di benak sejumlah warga Manado," kata dia.

Semenjak kemunculan Naga Kuning, klub-klub sepak bola lain muncul.

Tak lama kemudian, dibentuk Gasram (Gabungan Sepak Bola Manado) yang jadi tempat bernaung semua klub sepak bola di Manado termasuk Naga Kuning.

Gasram kemudian menjadi Persma.

Bau Naga Kuning tercium di Persma.

Nyong Loho menjadi Bendahara Persma selama 60 tahun.

Entah kebetulan atau tidak, kostum Persma berwarna kuning, mirip kostum naga kuning.

Yosadi mengenang Nyong Loho sebagai salah satu pembina olahraga profesional terkemuka dalam sejarah Manado.

Loho menghidupi dirinya dengan olahraga dan menghidupkan olahraga.

"Ia punya tokoh olahraga," kata dia.

Jejak Loho diteruskan sejumlah warga Tionghoa, salah satunya Hengky Wijaya.

Hengky pernah jadi manajer Persma di masa jayanya tahun 90-an.

"Kini banyak pula atlet dari cabor selain sepak bola yang jadi atlet serta pembina olahraga Sulut, semua terinspirasi Loho," kata dia.

Rohaniawan Ronny Loho mengaku Nyong Loho adalah cek (paman) nya.

Ia masih ingat kala sang Cek menuju ke tempat latihan bola bersama rekan-rekannya.

"Mereka jalan kaki menuju Sario untuk berlatih bola di sana," kata dia.

Pamannya menyediakan semua fasilitas latihan dari seragam, bola, hingga sepatu.

Para anak didik Loho berumur 10-17 tahun.

Baca juga: Kecelakaan Maut, Seorang Pengendara Motor Tewas, Jatuh Lalu Tertabrak Truk

Baca juga: Daftar Bupati Terpilih di Jawa Barat yang Akan Dilantik pada 20 Februari 2025 Pascaputusan MK

"Anggotanya mulanya orang Tionghoa namun lama kelamaan banyak juga orang Manado yang bergabung," kata dia.

Seingatnya sang pekhu tidak menjadikan suku sebagai ukuran.

"Pokoknya yang jago ia pasang," kata dia.

Kala itu Ronny masih kecil dan hobi olahraga pula.

Namun ia tak memilih sepak bola.

"Saya pilih tenis meja," kata dia.

Banyak orang Tionghoa yang hobi olahraga.

Tenis meja termasuk yang banyak digemari.

"Saya tekuni ini sungguh-sungguh. Saya pernah ikut PON," kata dia.(*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved