Opini
Catatan Seorang Jurnalis: Naga Kuning
Tahun 1950, sejumlah warga Tionghoa di bawah pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) mendirikan Klub Sepak Bola Naga Kuning (Huang Lung).
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Isvara Savitri
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Jangankan lapangan sepak bola, tanah lapang pun tak ada di Kampung Cina Manado, Sulawesi Utara (Sulut) saat ini.
Seluruh areanya dipenuhi gedung pertokoan.
Tak ada aktivitas sepak bola, warga semua sibuk berdagang.
Siapa sangka puluhan tahun lalu, sepak bola pernah jadi semangat hidup warga Kampung Cina.
Tahun 1950, sejumlah warga Tionghoa di bawah pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) mendirikan Klub Sepak Bola Naga Kuning (Huang Lung).
Hadirnya klub itu menyemai bibit sepak bola profesional di Kota Manado.
Lebih jauh, klub itu merupakan embrio Persma Manado.
Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut Sofyan Jimmy Yosadi menuturkan, berdirinya klub tersebut tak lepas dari iklim sosial saat itu, banyak warga Tionghoa yang menggeluti sepak bola.
"Antusiasme itu ditangkap oleh Nyong Loho dengan membentuk klub sepak bola," kata dia.
Seperti lazimnya warga Tionghoa, hal memberi nama sangat penting.
Nama berkaitan dengan keberuntungan.
Loho memilih nama Huang Lung (Naga Kuning) untuk klub itu.
"Naga artinya besar sedang kuning adalah warna kaisar yang artinya megah. Jadi artinya sesuatu yang besar dan megah," kata dia.
Sesuai namanya, Naga Kuning langsung melejit sebagai klub sepak bola terkuat dan profesional kala itu.
Berbagai lomba mereka menangkan, sejumlah atletnya ikut tim nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Foto-sendiri-Kampung-Cina-Manado-diwaktu-malam.jpg)