Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilkada

Prabowo Usul Kepala Daerah Dipilih DPRD, Penjabat Lebih Baik daripada Figur Terpilih Lewat Pilkada

Prabowo usul kepala daerah, Gubernur hingga Bupati dipilih oleh DPRD. Pengamat menilai penjabat lebih baik daripada figur terpilih lewat Pilkada.

|
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Frandi Piring
Tribunnews.com
Presiden Prabowo usul Kepala Daerah, di antara Gubernur hingga Bupati dipilih langsung oleh DPRD. Dosen Pengamat dari FISIP Unsrat, Daud Liando menilai penjabat lebih baik daripada figur terpilih lewat Pilkada. 

Malah sejumlah laporan kinerja di daerah yang kinerjanya lebih baik ternyata hanya dari daerah yang dipimpin oleh kepala daerah berstatus penjabat.

Sebagaimana, kepala daerah berstatus Penjabat (Pj) tidak dipilih langsung tapi hanya melalui proses pengangkatan.

"Sementara daerah yang dipimpin kepala daerah yang dipilih langsung memiliki kinerja pada urutan di bawah," jelasnya

Kata Daud, di sisi lain terdapat kepala daerah hasil pemilihan langsung berurusan dengan penegak hukum karena prilaku korupsi. 

Menurutnya, hasil evaluasi Kemendagri dan Kemenpan terdapat kepala daerah yang miskin inovasi dalam memajukan daerahnya, baik dalam hal kebijakan, pelayanan publik maupun strategi mengelola pendapatan daerah. 

"Miskin inovasi menjadi pemicu suatu daerah hanya bergantung pendanaan daerah dari transfer pemerintah pusat," jelas Daud Liando.

Ia melihat proses Pilkada langsung menjadi salah satu pemicu buruknya kinerja sebagian kepala daerah.

Pertama dalam hal seleksi calon oleh Parpol belum dilakukan secara benar oleh sebagian besar Parpol. 

Parpol kerap mengabaikan proses kaderisasi anggota sebelum diusulkan menjadi calon. 

"Calon yang diusung lebih mengedepankan kemampuan modal yang dimiliki ketimbang pegalaman kepemimpinan," jelasnya.

Kedua, prilaku pemilih sebagian besar belum teredukasi dengan baik. 

Pertimbangan dalam memilih calon kerap tidak didasarkan pada prestasi dan kapasitas. 

"Dasar pilihannya adalah imbalan seperti politik uang atau faktor kedekatan emosioanl semata," jelasnya.

Lanjut Daud Liando, perbedaan pilihan kerap tidak memperkaya demokratisasi pemilihan, tetapi mengarah pada permusuhan, politisasi sara, dan adu domba. 

Kultur dan struktur sosial masyarakat terpeca belah hanya karena perbedaan pilihan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved