Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Manado jadi Tuan Rumah Festival Budaya Jawa Tondano XIX 2025, Perkuat Kerukunan Sulawesi Utara 

"Festival Budaya Jawa Tondano tidak sekadar perayaan budaya tapi juga menjadi simbol bahwa kita bagian dari Sulawesi Utara yang rukun dan toleran,"

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Isvara Savitri
Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa
Pembukaan rangkaian Festival Budaya Jawa Tondano XIX 2025 di Kawasan Megamas Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (16/11/2024). 

"Tentu juga, mereka memberi peran dan sumbangsih bagi daerah ini. Lebih dari itu, Jaton merupakan cerminan Sulawesi Utara yang rukun," ujarnya. 

Ketua Harian KKJI, Arfan Basuki, mengungkapkan puncak Festival Budaya Jaton akan digelar pada 27-29 Juni 2025.

Pihaknya memastikan para peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. 

Selain bazaar budaya, aneka lomba dan atraksi akan digelar di Kawasan Megamas. 

Berbagai lomba budaya Jawa Tondano itu, di antaranya hadrah, salawat Jawa, Tari Dana-dana, Kamra, Damas, Today, roda kreasi, roda tradisional, hingga lomba bertutur Bahasa Jaton. 

Baca juga: Sosok Delisa, Korban Tsunami Aceh 2024 yang Kisahnya Pernah Difilmkan, Begini Nasibnya Sekarang

Baca juga: Lirik Lagu Menjadi Yang Terbaik - GENS, Sempurnakan Semua Impian Menjadi Bintang Menderang

Festival ini merupakan persembahan warga Jaton untuk warga Sulawesi Utara.

"Tentu kami harapkan bisa mendapatkan sambutan antusias masyarakat," katanya. 

Jawa Tondano merupakan sub etnis yang berawal dari Tondano, Minahasa.

Keberadaan Jawa Tondano tak lepas dari peristiwa sejarah diasingkannya Kyai Modjo ke Tondano, Minahasa pada akhir 1829.

Kyai Modjo merupakan ulama terkemuka sekaligus Panglima Perang Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa 1825-1830. 

Ia penasihat militer sekaligus spiritual Pangeran Diponegoro.

Karena perannya, Belanda menjadikannya target utama untuk mengakhiri Perang Jawa. 

Berhasil ditangkap lewat muslihat perundingan damai, Kyai Modjo diasingkan ke Tondano, Minahasa pada akhir 1829.

Ia diasingkan bersama 62 orang laki-laki pengikutnya. 

Sejak saat itu, Kyai Modjo dan para pengikutnya hidup, kawin mawin dengan perempuan Minahasa sehingga membentuk sub etnis Jawa Tondano.(*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved