Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tiongkok - Taiwan Memanas, Australia Tingkatkan Produksi Rudal

Australia akan meningkatkan pertahanan rudal dan kemampuan serangan jarak jauh ketika kawasan Asia Pasifik memasuki ‘zaman rudal’.

|
Editor: Arison Tombeg
Kolase TM
Fregat berpeluru kendali Angkatan Laut Australia HMAS Parramatta (kiri) berlayar bersama kapal serbu amfibi Angkatan Laut AS USS America, kapal penjelajah berpeluru kendali kelas Ticonderoga USS Bunker Hill dan kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Barry di Laut Cina Selatan di 2020. Australia akan meningkatkan pertahanan rudal dan kemampuan serangan jarak jauh ketika kawasan Asia Pasifik memasuki ‘zaman rudal’. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Canbera - Australia akan meningkatkan pertahanan rudal dan kemampuan serangan jarak jauh ketika kawasan Asia Pasifik memasuki ‘zaman rudal’.

Laut China Selatan kian memanas menyusul ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan.

Australia akan meningkatkan kemampuan pertahanan rudalnya setelah uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dilakukan Tiongkok di Pasifik Selatan menimbulkan “kekhawatiran yang signifikan” dan ketika kawasan Asia Pasifik memasuki “era rudal”.

Dikutip Al Jazeera, Australia berencana untuk meningkatkan pertahanan rudal dan kemampuan serangan jarak jauhnya, dan akan bekerja sama dengan mitra keamanan Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan dalam masalah stabilitas regional, kata Menteri Industri Pertahanan Australia Pat Conroy dalam pidatonya pada hari Rabu.

“Mengapa kita membutuhkan lebih banyak rudal? Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok adalah ciri utama lingkungan keamanan Australia,” kata Conroy kepada National Press Club di Canberra.

“Persaingan ini paling tajam di kawasan kita, Indo-Pasifik,” katanya.

Conroy mengatakan wilayah tersebut berada di titik puncak era rudal baru, di mana rudal juga merupakan “alat pemaksaan”.

Dia juga merujuk pada uji coba penembakan ICBM yang dilakukan Tiongkok pada bulan September yang menempuh jarak lebih dari 11.000 km (6.835 mil) untuk mendarat di Samudra Pasifik di timur laut Australia.

“Kami menyatakan keprihatinan yang signifikan mengenai uji coba rudal balistik tersebut, terutama masuknya rudal tersebut ke Pasifik Selatan mengingat Perjanjian Rarotonga yang menyatakan Pasifik harus menjadi zona bebas senjata nuklir,” katanya kepada wartawan saat menjawab pertanyaan.

Australia akan mengerahkan rudal SM-6 pada armada kapal perusak angkatan lautnya untuk menyediakan pertahanan rudal balistik, tambahnya.

Australia merupakan salah satu negara di Asia Pasifik yang meningkatkan belanja pertahanannya secara signifikan.

Pada bulan April, Australia meluncurkan strategi pertahanan yang mempertimbangkan peningkatan tajam dalam belanja negara untuk melawan kerentanan terhadap musuh yang mengganggu perdagangan atau menghalangi akses ke jalur udara dan laut yang penting.

Selain mengembangkan armada permukaannya dengan cepat, Australia berencana untuk mengerahkan kapal selam bertenaga nuklir yang tersembunyi dalam perjanjian tripartit dengan Amerika Serikat dan Inggris yang dikenal sebagai AUKUS.

Menteri Pertahanan Richard Marles mengatakan Australia sedang meluncurkan “cetak biru” untuk pembuatan rudal cepat di dalam negeri, dan perolehan kemampuan serangan jarak jauh bagi negara tersebut.

Awal bulan ini, Australia mengumumkan kesepakatan senilai 7 miliar dolar Australia ($4,58 miliar) dengan AS untuk mengakuisisi rudal jarak jauh SM-2 IIIC dan Raytheon SM-6 untuk angkatan lautnya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved