Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

G30S PKI

7 Teori tentang Dalang G30S PKI 1965, Soeharto hingga Intel AS

Simak 7 Teori tentang Dalang G30S PKI 1965. Soeharto, Soekarno hingga Intel AS.

Editor: Frandi Piring
Kompas.com
7 Teori tentang Dalang G30S PKI 1965. Soeharto, Soekarno hingga Intel AS. 

Dalam teori ini, kemungkinan Kepala Biro Chusus (BC) PKI (badan intelijen PKI) Sjam Kamaruzaman adalah pembantu Soeharto yang disusupkan ke PKI, bukan anggota PKI yang bertugas di TNI AD.

Teori ini juga didukung oleh kesaksian Kolonel Abdul Latief, salah satu tokoh kunci peristiwa G30S/PKI.

Abdul mengungkapkan, ia memberi tahu Soeharto soal rencana penculikan sejumlah jenderal, tetapi Soeharto tidak melakukan apa-apa.

Dengan demikian, dalam sekali gerakan G30S, Soeharto bisa menghancurkan pimpinan TNI AD yang mengecewakannya dan PKI yang merupakan musuh TNI AD.

2. Soekarno

Dalam teori lain, Presiden Soekarno disebut-sebut menjadi dalang dalam peristiwa G30S tersebut.

Hal tersebut dikatakan penulis buku Antonie Dake dalam "In The Spirit of the Red Banteng, The Devious Dalang: Soekarno and so-called Untung Putsch dan John Hughes" di buku The End of Soekarno.

Dituliskan, kepentingan Soekarno sebagai dalang G30S yakni melenyapkan oposisi sebagian perwira tinggi TNI AD terhadap kepemimpinannya.

Mengingat kedekatannya terhadap Soekarno, PKI kemudian ikut terseret dalam kasus ini. Saat itu, Soekarno juga condong kepada Uni Soviet yang berhaluan komunisme.

3. CIA

Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson mengemukakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat, CIA adalah dalang G30S.

Hal itu dilatarbelakangi oleh kepentingan Amerika Serikat (AS) agar Indonesia ke depannya tidak menjadi basis komunisme.

Pada 1960-an, AS mencemaskan teori domino, bahwa komunisme di Vietnam lama-kelamaan akan tumbuh di Indonesia.

Menurut teori ini, G30S digerakkan oleh CIA atau Pemerintah AS yang bekerja sama dengan AD dan memprovokasi PKI.

Tujuan akhirnya adalah menggulingkan PKI dan Presiden Soekarno, yang saat itu condong ke Uni Soviet dan anti-Barat.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved