Manado Sulawesi Utara
Pelaku UMKM di Malalayang Beach Walk di Manado Keluhkan Soal Tempat Sempit dan Harga Sewa Mahal
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pantai Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara mengeluh.
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pantai Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara mengeluhkan soalĀ kondisi tempat berjualan yang sempit di Malalayang Beach Walk (MBW).
Salah satu pelaku usaha yang mengeluhkan hal ini adalah Alberti.
Pelaku usaha mengungkapkan ukuran tempat yang mereka dapat untuk berjualan terlalu kecil.
"Kami kesulitan melakukan aktivitas seperti persiapan makanan pembeli," kata Alberti pada Tribunmanado.co.id, Rabu (17/1/2024).
Masalah lain yang dihadapi oleh para pedagang adalah harga sewa yang dianggap cukup tinggi.
"Harga sewa sekitar 1,7 Juta per bulan, dulu biaya sewa pernah Rp 2.5 juta kami tolak, terlalu mahal," lanjutnya.
Alberti mengatakan, pendapatan mereka saat ini jauh berkurang dibandingkan dengan masa lalu.
Saat ini, pelaku usaha hanya mampu mendapatkan pendapatan antara Rp 200-400 ribu saat ramai pengunjung.
"Tapi kalau sepi, untuk balik modal hari ini saja susah," keluhnya.
Ia mengatakan, sebelum direnovasi pendapatan mereka bisa jutaan rupiah perhari.
"Sekarang, dapat Rp 500 ribu saja sudah bersyukur," kata Alberti.
Selain itu, para penjual juga harus membayar karyawan dan biaya operasional lainnya.
Selain keterbatasan tempat dan pendapatan yang menurun, para pedagang juga menghadapi masalah jika terjadi hujan.
Air hujan dapat masuk ke dalam area penjualan mereka yang dilengkapi dengan colokan listrik, menjadi sangat berbahaya.
"Memang saya akui tempat ini sudah bagus, tapi masalahnya pendapatan kami menurun drastis.
Apalagi saat ini tempat duduk yang disediakan pemerintah hanya terbatas. Waktu saya jualan dulu, kursi saya tiga lusin itu terpakai semua.
Sekarang tempa duduknya sedikit, dan dipakai secara umum, jadi beberapa pengunjug juga enggan membeli karena tempat duduk sudah full.
Saya mau pake kursi sendiri, tapi mau taruh dimana, jadi ya sudah seperti ini. Saya akui tempat ini bagus sekali, tapi apa daya bagus tapi penghasilan kami justru menurun, bukan membantu rakyat, tapi menyulitkan menurut saya," keluh Alberti.
Pelaku UMKM di Malalayang Beach Walk berharap adanya solusi dari pihak terkait.
Seperti pengelola atau pemerintah setempat, untuk memperbaiki situasi ini.
Ia berharap ada pembenahan terhadap kondisi tempat berjualan agar dapat meningkatkan pendapatan mereka.
Serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk berdagang.
Pantauan Tribunmanado.co.id, semua penjual di MBW berada di dalam satu bangunan semi outdoor.
Bangunan tersebut terbagi menjadi 27 petak, yang ditempati oleh para penjual.
Baca juga: Cerita Alberti Kanaka, UMKM di Malalayang Beach Walk Manado, Raup Omzet hingga Jutaan Rupiah
Baca juga: Potret Para Penjual di Malalayang Beach Walk 1 Manado Sulawesi Utara
Ada yang Tak Didatangi Keluarga, Komandan TNI AL Hibur Siswa Dikmata Saat Pelantikan di Manado |
![]() |
---|
Kisah Gen Z Jualan Kopi Keliling di Kota Manado, Sebut Gengsi Bikin Tak Bisa Makan |
![]() |
---|
Belajar bersama Mahasiswa Faperta Unsrat Manado Sentuh Anak-Anak yang Belum Merasakan Bangku Sekolah |
![]() |
---|
Warga Bitung Rela Jual Motor Demi Bisa Kerja di Kamboja, Janji Beli Mobil Kalau Sudah Gajian |
![]() |
---|
Polsek Bandara Sam Ratulangi Manado Gagalkan 2 Warga Sulawesi yang Hendak ke Kamboja |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.