Tahun Baru di Sulut
4 Tradisi Unik Awal Tahun di Sulawesi Utara
Di Sulut ada yang merupakan tradisi asli daerah, ada pula yang merupakan campuran antara budaya penduduk pribumi dan Eropa.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Simak 4 tradisi unik saat awal tahun di Sulawesi Utara.
Di setiap daerah memiliki tradisi unik dalam perayaan tahun baru.
Di Sulawesi Utara juga seperti itu.
Di Sulut ada yang merupakan tradisi asli daerah, ada pula yang merupakan campuran antara budaya penduduk pribumi dan Eropa.
Figura
Figura adalah tradisi awal tahun di Sulawesi Utara.
Di mana para pria ada yang berdandan ala wanita.
Mereka memakai rok, wig, dan lipstik di bibir.
Mereka jalan keliling desa sambil bernyanyi dan berjoged.
Ini bukan parade waria, tapi tradisi awal tahun di Sulawesi Utara yang disebut figura.
Figura biasa dilombakan atau diadakan oleh sebuah perkumpulan dengan tujuan mencari dana.
Suasana figura santai dan penuh gelak tawa.
Dulunya figura tidak begitu.
Figura berakar dari tradisi warga setempat untuk menipu roh jahat.
Tradisi itu kemudian menyatu dengan kebudayaan Spanyol yang masuk ke Sulawesi Utara melalui pesisir utara provinsi ini, termasuk di Minahasa Utara.
Nama figura sendiri dari Bahasa Latin yang artinya figur.
Tokoh masyarakat Desa Kema, Max Cornelez, menyatakan figura merupakan tradisi warga Kema keturunan Borgo - Spanyol yang telah menyebar ke seluruh Sulut.
Dahulu Kema terkenal dengan ilmunya hingga figura pun berbau mistis.
"Namun kini sudah tak pakai ilmu lagi. Semua sudah ditaklukkan oleh injil Kristus, figura kini justru jadi semacam ajang cari dana untuk gereja," kata dia.
Sejarah versi berbeda dipaparkan Dr Paul Richard Renwarin.
Dalam bukunya yang berjudul Matuari Wo Tonaas Jilid I Mawanua (2007), ia menyebut, figura sebenarnya menggantikan fosso mengelur (elur artinya membujuk), yang masa kini itu disebut weresi wanua, membersihkan desa.
134 tahun lalu, tepatnya pada 1883, seorang Zendeling bernama Louwerier menurut Renwarin merekam kisah fosso mengelur di Desa Kali.
Warga Kali berperang melawan sakit, roh-roh jahat yang mengembara tanpa kelihatan.
Kehadiran roh jahat itu diketahui bila daun te'ep (semacam palem, artocapus blume) bergoyang.
Mekiwuka
Mekiwuka adalah tradisi awal tahun yang merupakan gabungan tradisi gabungan Minahasa dan Eropa.
Mekiwuka berkembang di kalangan orang Borgo di Manado.
Mekiwuka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan berkunjung ke rumah warga dan bernyanyi.
Tampil alat musik seperti gitar, ukulele, biola, tiga, serta jug.
Dumia Umbanua
Setiap daerah punya tradisi awal tahun.
Namun tradisi Dumia Umbanua di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, benar-benar unik.
Dalam tradisi ini, hewan babi disembelih dan hatinya diambil.
Hati tersebut dijadikan media untuk memperoleh petunjuk tentang keadaan kampung kedepannya.
Dumia Umbanua adalah tradisi bersih-bersih kampung yang dilaksanakan pada bulan pertama di tahun yang baru.
Tujuannya adalah meminta pertolongan dari Tuhan agar di tahun yang baru memperoleh berkat dan perlindungan.
Informasi yang dihimpun tribunmanado.co.id, tradisi ini berusia ratusan tahun dan merupakan tradisi tua Minahasa yang sudah punah, kecuali di Desa Laikit.
Menurut catatan sejarah Desa Laikit, ritual tersebut berlangsung sejak 1775.
Hajatan tersebut diawali dengan penyembelihan seekor babi untuk diambil hatinya.
Jika hati bersih, itu pertanda kampung akan baik baik saja, pertanian akan meningkat.
Petani akan membuka ladang sementara warga yang PNS maupun pegawai swasta akan meningkatkan kinerjanya.
Petunjuk lain adalah warga harus takut akan Tuhan, taat pemerintah, dan saling menyayangi.
Ritual disusul dengan ziarah ke kuburan Opo Ngangi yang berada di perkuburan desa.
Kemudian dilanjutkan dengan keliling kampung sambil mencipratkan air yang sudah didoakan.
Ritual di Watu Pinawetengan
Biasanya orang-orang akan mengunjungi Watu Pinawetengan yang berada di Kabupaten Minahasa.
Di sana, masyarakat melakukan ritual dengan berbagai maksud.
Ada yang berziarah, minta petunjuk leluhur, pengobatan, hingga aktivitas wisata.
Warga Minta Perlindungan dari Bencana Banjir, Ritual 3 Januari di Watu Pinawetengan (TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS)
Umumnya warga yang datang tergabung dalam ormas adat, namun banyak pula yang datang sendiri.
Disana sesajen yang pada umumnya adalah telur, diatur di ujung batu.
Di ujung lainnya berdiri pakampetan atau seseorang yang dirasuki roh leluhur.
Aneka peralatan seperti panji, pedang, serta tas ditaruh di atas batu.
Dalam kondisi trans, pakampetan akan menyampaikan petunjuk serta nasehat kepada warga.
Suara pakampetan berubah saat menyampaikan pesan, menjadi sangat besar atau menyerupai nenek-nenek.
Seorang pakampetan menginjak tanah dan bumi terasa bergetar.
Sebuah perkumpulan ormas memeragakan aksi kebal sebelum masuk ke lokasi batu besar.
Gaya warga yang hendak masuk ke lokasi batu seragam.
Takzim dan menginjak bumi sebanyak tiga kali.
Di antara bau dupa dan tampang sangar sejumlah peziarah, persaudaraan tumbuh. (Art)
| Imbauan Pertamina kepada Warga Sulut: Perhatikan Kembang Api, Apalagi di Sekitar SPBU |
|
|---|
| Arus Mudik Menuju Palu, Makassar, dan Toraja Sepi Sejak Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 |
|
|---|
| Lonjakan Penumpang dan Kenaikan Tarif Tiket Mudik di Terminal Malalayang Manado Sulut |
|
|---|
| Warga Sulut Liburan Tahun Baru 2024 di Pantai Malalayang Manado |
|
|---|
| Rayakan Tahun Baru 2024, Warga Tomohon Sulut Padati Restoran Cepat Saji, Kumpul Bersama Keluarga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/figura-wki-gmim-imanuel-bahu4.jpg)