Kabar Israel Palestina
Tuduhan Israel yang Menyebut Hamas Gunakan Rumah Sakit sebagai Sarana Perang Perlu Bukti Kuat
Tudingan Israel terhadap Hamas yang menyebut kelompok militer itu menggunakan rumah sakit sebagai instrumen perang belum terbukti.
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Israel menuding kelompok Hamas menggunakan rumah sakit sebagai sarana perang.
Namun tuduhan tersebut hingga kini belum terbukti kebenarannya.
Diketahui, pertempuran sengit tengah berlangsung di Jalur Gaza antara Israel dan Hamas.
Pertempuran di sekitar rumah sakit memaksa ribuan warga Palestina mengungsi dari beberapa tempat yang dianggap aman di Gaza utara, Senin (13/11/2023).
Akibatnya, banyak pasien, bayi baru lahir, dan perawat yang terluka parah telantar karena persediaan alat medis yang menipis dan ketiadaan pasokan listrik.
Pihak Zionis menyebut Hamas menggunakan rumah sakit sebagai perlindungan bagi para pejuangnya.
Untuk memperkuat tudingan tersebut, Israel bahkan merilis rekaman yang merka klaim sebagai pasukan Hamas yang pindah ke sebuah rumah sakit anak-anak.
Tak hanya itu, Israel juga memperlihatkan senjata yang mereka nyatakan ditemukan di dalamnya.
Selain itu, menurut Israel, kamar-kamar di ruang bawah tanah di rumah sakit digunakan Hamas untuk menyandera sekitar 240 orang yang mereka culik.
“Hamas menggunakan rumah sakit sebagai instrumen perang,” kata Laksamana Muda Daniel Hagari, juru bicara utama angkatan darat Israel, sambil berdiri di ruangan Rumah Sakit Anak Rantisi.
Sementara itu, tembakan dan ledakan terjadi pada Senin di sekitar rumah sakit utama Kota Gaza, Al Shifa, yang telah dikepung oleh pasukan Israel selama berhari-hari.
Puluhan ribu orang telah meninggalkan rumah sakit dalam beberapa hari terakhir dan menuju ke Jalur Gaza selatan, termasuk sejumlah besar pengungsi yang berlindung di sana, serta pasien yang bisa pindah.
Bagi warga Palestina, Al Shifa mengingatkan penderitaan warga sipil.
Selama berminggu-minggu, staf yang kekurangan persediaan telah melakukan operasi di sana terhadap pasien yang terluka akibat perang, termasuk anak-anak, tanpa anestesi.
Setelah eksodus massal pada akhir pekan, sekitar 650 pasien dan 500 staf masih berada di rumah sakit, yang tidak dapat lagi berfungsi, bersama dengan sekitar 2.500 pengungsi Palestina yang berlindung di dalam rumah sakit dengan sedikit makanan atau air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Bayi-Palestina-menerima-perawatan-di-inkubator-unit-perawatan-intensif-di-rumah-sakit-al-Shifa.jpg)