Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cerita Perjalanan Soekarno

Soekarno Tinggal di Manado, ke Gorontalo dengan Pesawat Ampibi dan Nikahi Pramugari Asal Bolmong

Perjalanan Soekarno, pernah Tinggal di Manado, ke Gorontalo dengan Pesawat Ampibi dan Nikahi Pramugari Asal Bolmong atau Bolaang Mongondow.

Kolase/Tribunmanado.co.id/Kompas.com
Rumah Soekarno di Manado dan Museum Soekarno di Gorontalo. 

Selain pernah ke Manado Sulawesi Utara, Soekarno juga pernah menginjakkan kakinya di Gorontalo

Tempat yang pernah didatangi Soekarno, kini menjadi museum. 

Museum Pendaratan Ampibi Soekarno

Di tepian Danau Limboto, tepatnya di Desa Iluta, Kecamatan Batuda'a, Kabupaten Gorontalo, Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, pernah menjejakkan kakinya di sana.

Soekarno untuk pertama kalinya berkunjung ke Gorontalo pada 1950 dan kembali lagi pada 1956. Kini, jejak Soekarno di tempat itu dibuat sebagai museum.

Museum itu bernama Museum Pendaratan Pesawat Ampibi.

Pasalnya, saat Soekarno berkunjung ke Gorontalo, dua kali menggunakan pesawat amfibi dan mendarat di Danau Limboto.

Kala itu, kedalaman Danau Limboto diperkirakan lebih dari 20 meter. Adapun museum tersebut berada sekitar 15 meter dari bibir danau.

Sejatinya, bangunan yang kini menjadi museum tersebut adalah rumah peninggalan Belanda yang dibangun pada 1936. Selanjutnya, pada 29 Juni 2002 rumah itu direnovasi dan diresmikan oleh Presiden RI yang kelima, Megawati Soekarnoputri, sebagai museum.

Museum itu didirikan untuk mengenang semangat juang Soekarno mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang tercantum dalam papan nama museum.

Museum yang berupa rumah dengan arsitektur Belanda itu berukuran 5 meter x 15 meter. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi dua sekat.

Satu ruang yang paling kecil sebelumnya berfungsi untuk toilet. Sisanya dipakai untuk memajang benda-benda kuno, seperti foto-foto Soekarno dan uang kertas di era awal kemerdekaan RI.

Foto dan uang kertas terpajang rapi pada semua bagian dinding museum. Di ruang beranda atau ruang tamu, ada kotak kaca berukuran 1 meter x 1 meter.

Kotak itu berisi tujuh buku dan satu radio transistor model kuno. Buku-buku yang dipajang mengisahkan tentang sosok Soekarno dan salah satunya adalah buku karya Soekarno yang terkenal, Di Bawah Bendera Revolusi, jilid pertama cetakan kedua.

Saat Kompas berkunjung ke museum itu akhir pekan lalu, kebersihan dan kerapian di dalam museum amat terjaga.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved