RHK Senin 3 April 2023
Bacaan Alkitab Matius 27:28-30 Dinista, Dihina, Diludahi, Diolok-olok
Kebencian kepada Yesus sudah di luar batas kemanusiaan. Padahal, Dia tidak melakukan sedikitpun kesalahan.
Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
Matius 27:28-30
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kebencian kepada Yesus sudah di luar batas kemanusiaan. Padahal, Dia tidak melakukan sedikitpun kesalahan. Dia tidak melakukan hal yang jahat.
Dia penuh cinta kasih. Dia menolong, mengasihi, menyembuhkan dan membangkitkan banyak orang dari kematian. Pengajaran-Nya benar, karena sesuai firman Tuhan, tidak melanggar hukum Taurat seperti yang mereka tuduhkan.
Secara wajar, tak ada dasar untuk membenci apalagi menghukum Yesus. Karena yang Dia perbuat adalah kebaikan dan kebenaran.
Justeru yang membenci dan memghukum-Nya memang adalah orang jahat, tidak baik dan hidup tidak benar, yang suka memelintir firman Tuhan, termasuk hukum Taurat.
Itulah para imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua Yahudi yang karena iri dan dengki serta keserakahan dan ketamakan, membuat mereka kehilangan akal sehat. Mereka menghukum mati orang benar.
Penghukuman-Nya juga sangat dramatis. Mulai dari proses penangkapan, hingga peradilan yang tidak adil dan perlakuan yang tidak manusiawi serta tindakan sadistis, keji dan tanpa nurani sedikitpun.
Sebelum disiksa dalam Jalan Salib, Yesus sudah didera, dihina, dinista, diolok-olok dengan penuh kebencian. Semua hanya karena provokasi dan hasutan para imam kepala cs.
Yesus yang adalah Raja dan Anak Allah, dinista, dihina dan diolok-olok seenak perut mereka tanpa belas kasihan sedikitpun sebagai Anak Manusia biasa. Dia dipakaikan jubah ungu sebagai tanda kebesaran (kerajaan). Padahal maksudnya adalah penghinaan. Bukan tanda penghormatan.
Baca juga: Renungan Harian Keluarga – Matius 27:28-30 Jangan membalas hinaan!
Baca juga: Renungan Harian Kristen, Baca Baca Yohanes 19:14-16, Inilah Rajamu: Dia Raja Kita!
Mereka kemudian memberikan tongkat kerajaan, namun dari buluh sebagai bentuk penistaan, penghinaan dan olok-olok. Jadi seakan-akan tongkat, tapi bukan. Malah buluh itu kemudian diambil untuk menggebuk-Nya.
Setelah itu mereka berlutut seakan-akan memberi hormat, padahal adalah penistaan. Merekapun meludahi-Nya sebagai bentuk penghinaan yang amat sangat.
Tidak cukup sampai di situ. Karena seorang raja selalu memakai mahkota, maka Yesus juga diberi mahkota. Tapi bukan mahkota perak, emas apalagi dari berlian. Tapi dari duri yang tajam.
Mereka memakaikan mahkota duri itu dikepala-Nya dan menancapkan duri di dalam daging dan batok kepala-Nya, sehingga darahpun mengucur ke wajah-Nya dan kepala-Nya mengeluarkan darah dari muka dan belakang, akibat hantaman diri tajam itu.
Demikian keji perbuatan mereka. Begitu kejam dan sadis perlakuan mereka. Iblis telah menguasai mereka. Mereka kesetanan menghajar Yesus. Tapi Yesus tetap sabar, dia pasrah penuh tanpa melawan sedikitpun. Dia menerima semua kekejaman dan kekejian yang sadis itu, karena cinta dan kasih-Nya akan kita.
Dia rela dihina, diludahi, ditusuk duri kepala-Nya hingga berdarah, diolok-olok, dipukul dengan buluh, ditinju, dipukul, dihina dan diperlakukan tanpa batas kemanusiaan. Semua demi kita, demi saudara dan saya. Renungkanlah itu semuanya.
Demikian firman Tuhan hari ini.
Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.
Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!"
Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. (ay 28-30)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jim-caviezel-bersaksi-usai-perankan-yesus-di-film-the-passion-of-the-christ3.jpg)