Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Harga Cabai Tembus Rp 125 Ribu, Pemilik Rumah Makan di Manado Ngaku Bingung

Harga cabai di Kota Manado Sulawesi Utara hari ini mencapai Rp 125 ribu per kilogram.

Penulis: Nielton Durado | Editor: Chintya Rantung
nielton durado/tribun manado
Penjual cabai di Pasar Pinasungkulan Karombasan Manado. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga cabai di Kota Manado hari ini mencapai Rp 125 ribu per kilogram.

Naiknya harga cabai tersebut tak hanya dikeluhkan oleh sebagian warga saja.

Beberapa pemilik rumah makan di Manado juga mengaku pusing dengan melonjaknya harga cabai.

Salah satunya adalah Tonny.

Pemilik rumah makan ikan bakar di Marina Plaza Manado ini mengaku harus mensiasati konsumsi cabai pasca kenaikan harga tersebut.

Ketika ditemui Tribunmanado.co.id, Tonny mengatakan jika dirinya ikut pusing pasca kenaikan harga cabai.

"Biasanya dalam sehari saya pakai dua kilogram cabai. Tapi karena sekarang harganya lagi mahal, terpaksa harus dikurangi," ucapnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Cici, pengusaha lainnya.

Ia mengatakan jika cabai merupakan komponen penting dalam usaha kuliner di Manado.

"Kita tahu jika warga Manado itu sangat suka makanan pedas. Jadi kalau cabai mahal seperti ini kami yang pusing," kata dia.

Ia pun berharap agar pemerintah bisa turun tangan dan melakukan intervensi agar harga cabai kembali normal.

"Karena kalau dua bulan harganya begini terus maka kami bisa tutup," tegas dia.

Seperti diketahui, harga cabai di Kota Manado saat ini mencapai Rp 125 ribu perkilogram.

Pada bulan Februari 2023, harga cabai masih normal yakni Rp 50.000 perkilogram.

Penyebab Harga Cabai Tembus Rp 125 Ribu per Kg di Manado

Harga cabai rawit (rica) di pasaran Kota Manado, Sulawesi Utara sudah mencapai Rp 125 ribu per kilogram (kg).

Kenaikan harga rica sudah terjadi dari beberapa minggu yang lalu.

Pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Manado (Unima), Dr Robert Winerungan mengatakan, kenaikan harga cabai ini terjadi karena dua faktor.

Pertama, meningkatnya permintaan. Peningkatan permintaan karena komoditas rica tidak hanya dijual di Manado dan sekitarnya.

"Tapi juga sudah banyak diekspor antar pulauk di luar Sulawesi Utara seperti di Kalimantan, Maluku Utara dan Papua," kata Winerungan kepada Tribunmanado.co.id, Jumat (24/03/2023).

Menurutnya, kenaikan harga cabai rawit sebenarnya terjadi secara nasional di hampir seluruh daerah di Indonesia.

Kenyataan, sebagian stok cabai di Sulut banyak yang dijual ke luar daerah.

"Ini yang menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan komoditas cabai rawit," katanya lagi.

Sedangkan faktor yang kedua adalah ada pada masalah suplai atau masalah produksi.

Masalah suplai bisa karena iklim atau cuaca sehingga produksi barito ini tidak maksimal.

Akhir-akhir ini curah hujan tinggi menyebabkan produksi cabai tidak maksimal.

Hal lain yang menyebabkan jumlah produksi cabai yang tidak maksimal adalah pada masalah input produksi yakni mahalnya pupuk bahkan sulit didapat.

"Ada banyak petani yang ingin mendapatkan pupuk untuk tanaman tapi tidak ada," ujarnya.

Masalah pupuk ini vital dalam tanaman barito untuk peningkatan produksi.

Tidak mungkin produksi akan maksimal jika tidak ada pupuk.

Masalah lain lagi dari jumlah produksi cabai yang kurang karena pada beberapa bulan, yakni akhir tahun 2022 harga cabai turun sampai pada Rp 30 ribu rupiah per kg.

Harga yang kurang bagus ini menyebabkan petani saat itu enggan menanam cabai dan akibatnya saat ini terjadi kekurangan produksi.

Ada kecenderungan untuk pruduksi bahan makanan seperti cabai jika harga saat ini mahal membuat petani banyak yang menanam.

Pada saat panen pada 3-4 bulan yang akan datang terjadi over produksi dan saat itu petani tidak mau menanam dan kelak nanti akan terjadi kekurangan produksi.

"Begitu terus proses produksi bahan makanan hasil pertanian seperti cabai," jelasnya.

Oleh karenanya menjadi perhatian bagi pemerintah untuk mencari solusi pada masalah pertanian ini khususnya pada komoditas cabai.

Dalam jangka pendek harusnya perlu impor antar pulau misalnya dari Pulau Jawa yang mungkin ada kelebihan produksi.

Program Pemerintah daerah Marijo Bakobong harus terus digaungkan serta implementasinya terjadi pada masyarakat.

TPID harusnya sudah bisa mengantisipasi akan masalah harga cabai yang terus naik.

Saat ini terjadi bukan pada masalah peningkatan permintaan tapi pada masalah supply atau pada masalah kekurangan stok.

Benar ada bulan puasa tapi tidak banyak mempengaruhi permintaan cabai.

Dalam jangka panjang, teknologi pertanian sudah waktunya berperan dalam produksi di sektor pertanian khususnya pada tanaman cabai.

Bagaimana membuat produksi maksimal saat musim panas ataupun musim hujan agar produksi tetap stabil.

Tentang Manado

Kota Manado adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, dan merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sulawesi.

Kota Manado berbatasan dengan Kabupaten Minahasa dan Minahasa Utara.

Kota Manado memiliki 11 kecamatan serta 87 kelurahan dan desa, luas wilayah Kota Manado 157,27 km⊃2;.

Wilayah perairan Kota Manado meliputi Pulau Bunaken, Pulau Siladen dan Pulau Manado Tua.

Saat ini Kota Manado dipimpin oleh Wali Kota Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Richard Sualang.(nie)

Baca berita lainnya di: Google News.

Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved