Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Sulawesi Utara

6 Tradisi Unik Merayakan Tahun Baru di Sulut: Dari Dumia Umbanua di Minut hingga Babaris di Talaud

Sulawesi Utara memiliki berbagai tradisi unik di wilayah masing-masing. Dari Dumia Umbanua hingga Babaris.

Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
Istimewa/HO
6 Tradisi Unik Merayakan Tahun Baru di Sulut: Dari Dumia Umbanua di Minut hingga Babaris di Talaud 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut 6 tradisi unik awal tahun di Sulawesi Utara.

Tahun 2022 telah berlalu, kini kita menapaki tahun 2023 yang penuh dengan pengarapan dan sukacita.

Masyarakat di seluruh dunia merayakan pergantian tahun dengan semarak.

Ada yang merayakan dengan konser, pawai, hingga perayaan besar-besaran.

Meski begitu, di sebagian wilayah masih merayakan tahun baru dengan cara tradisional.

Baca juga: Kalender Jawa Hari Ini Senin 2 Januari 2023, Weton Senin Pon, Melambangkan Ini

Perayaan ini biasanya masih dilakukan hingga beberapa hari di awal tahun yang baru.

Salah satunya di Sulawesi Utara.

Tradisi unik ini ada yang merupakan budaya asli. 

Ada juga yang merupakan campuran antara budaya penduduk pribumi dan Eropa.

Berikut daftar Tradisi unik di Sulawesi Utara dalam merayakan Tahun Baru:

1. Mabaris'sa atau Babaris

Tradisi Mabaris’sa, Babaris atau Berbaris merupakan sebuah potret masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud dalam memperingati hari Natal, hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus dan menyambut Tahun Baru.

Seperti pada umumnya di Tanah Porodisa, dalam prosesi Mabaris’sa ini, terlihat jelas bagaimana ekspresi masyarakat di Bumi Porodisa dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkat dan cinta kasihNya dalam kehidupan.

Saat tradisi ini digelar, warga tumpah–ruah kejalan. Tua, muda dan anak–anak membanjar dalam barisan yang panjangnya hingga ratusan meter sambil berpasangan.

Irama gerakan dua kali serong ke kiri dibalas dua kali serong ke kanan dan seterusnya sambil bergerak maju atau bahasa lokalnya “Dua Pas” mengantar langkah mengitari perkampungan.

Terkadang, hingga mentari tak lagi bersinar, warga masih mengayunkan langkah, menari dan terus bergoyang sambil di iringi musik.

Mabaris’sa merupakan satu gambaran betapa bersyukurnya warga masyarakat atas berkat dan perlindungan Sang Pencipta dalam kehidupan umat manusia.

Memperingati hari kelahiran bayi Juruselamat dan berkat yang telah Ia curahkan bagi umat manusia.

Disini terlihat jelas, warga masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari–hari, baik di laut maupun di daratan, semua mengucap syukur.

2. Figura

Ini Sejarah Figura, Dulunya Ajang Adu Ilmu Hingga Kiat Menipu Roh Jahat
Ini Sejarah Figura, Dulunya Ajang Adu Ilmu Hingga Kiat Menipu Roh Jahat (TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS)

Figura adalah tradisi awal tahun di Sulawesi Utara

Di mana para pria ada yang berdandan ala wanita.

Mereka memakai rok, wig, dan lipstik di bibir.

Mereka jalan keliling desa sambil bernyanyi dan berjoged. 

Ini bukan parade waria, tapi tradisi awal tahun di Sulawesi Utara yang disebut figura. 

Figura biasa dilombakan atau diadakan oleh sebuah perkumpulan dengan tujuan mencari dana.

Suasana figura santai dan penuh gelak tawa.

Dulunya figura tidak begitu.

Figura berakar dari tradisi warga setempat untuk menipu roh jahat.

Tradisi itu kemudian menyatu dengan kebudayaan Spanyol yang masuk ke Sulawesi Utara melalui pesisir utara provinsi ini, termasuk di Minahasa Utara.

Nama figura sendiri dari Bahasa Latin yang artinya figur.

Tokoh masyarakat Desa Kema, Max Cornelez, menyatakan figura merupakan tradisi warga Kema keturunan Borgo - Spanyol yang telah menyebar ke seluruh Sulut.

Dahulu Kema terkenal dengan ilmunya hingga figura pun berbau mistis.

"Namun kini sudah tak pakai ilmu lagi. Semua sudah ditaklukkan oleh injil Kristus, figura kini justru jadi semacam ajang cari dana untuk gereja," kata dia.

Sejarah versi berbeda dipaparkan Dr Paul Richard Renwarin.

Dalam bukunya yang berjudul Matuari Wo Tonaas Jilid I Mawanua (2007), ia menyebut, figura sebenarnya menggantikan fosso mengelur (elur artinya membujuk), yang masa kini itu disebut weresi wanua, membersihkan desa.

134 tahun lalu, tepatnya pada 1883, seorang Zendeling bernama Louwerier menurut Renwarin merekam kisah fosso mengelur di Desa Kali.

Warga Kali berperang melawan sakit, roh-roh jahat yang mengembara tanpa kelihatan.

Kehadiran roh jahat itu diketahui bila daun te'ep (semacam palem, artocapus blume) bergoyang.

3. Mekiwuka

Mekiwuka adalah tradisi awal tahun yang merupakan gabungan tradisi gabungan Minahasa dan Eropa.

Mekiwuka berkembang di kalangan orang Borgo di Manado.

Mekiwuka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan berkunjung ke rumah warga dan bernyanyi.

Tampil alat musik seperti gitar, ukulele, biola, tiga, serta jug. 

4. Dumia Umbanua

dumia umbanua
dumia umbanua (Arthur Rompis/Tribunmanado)

 

Setiap daerah punya tradisi awal tahun.

Namun tradisi Dumia Umbanua di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, benar-benar unik.

Dalam tradisi ini, hewan babi disembelih dan hatinya diambil.

Hati tersebut dijadikan media untuk memperoleh petunjuk tentang keadaan kampung kedepannya.

Dumia Umbanua adalah tradisi bersih-bersih kampung yang dilaksanakan pada bulan pertama di tahun yang baru.

Tujuannya adalah meminta pertolongan dari Tuhan agar di tahun yang baru memperoleh berkat dan perlindungan.

Informasi yang dihimpun tribunmanado.co.id, tradisi ini berusia ratusan tahun dan merupakan tradisi tua Minahasa yang sudah punah, kecuali di Desa Laikit.

Menurut catatan sejarah Desa Laikit, ritual tersebut berlangsung sejak 1775.

Hajatan tersebut diawali dengan penyembelihan seekor babi untuk diambil hatinya.

Jika hati bersih, itu pertanda kampung akan baik baik saja, pertanian akan meningkat.

Petani akan membuka ladang sementara warga yang PNS maupun pegawai swasta akan meningkatkan kinerjanya.

Petunjuk lain adalah warga harus takut akan Tuhan, taat pemerintah, dan saling menyayangi.

Ritual disusul dengan ziarah ke kuburan Opo Ngangi yang berada di perkuburan desa.

Kemudian dilanjutkan dengan keliling kampung sambil mencipratkan air yang sudah didoakan. 

5. Ritual di Watu Pinawetengan

Biasanya orang-orang akan mengunjungi Watu Pinawetengan yang berada di Kabupaten Minahasa.

Di sana, masyarakat melakukan ritual dengan berbagai maksud. 

Ada yang berziarah, minta petunjuk leluhur, pengobatan, hingga aktivitas wisata.

Umumnya warga yang datang tergabung dalam ormas adat, namun banyak pula yang datang sendiri.

Disana sesajen yang pada umumnya adalah telur, diatur di ujung batu.

Di ujung lainnya berdiri pakampetan atau seseorang yang dirasuki roh leluhur.

Aneka peralatan seperti panji, pedang, serta tas ditaruh di atas batu.

Dalam kondisi trans, pakampetan akan menyampaikan petunjuk serta nasehat kepada warga.

Suara pakampetan berubah saat menyampaikan pesan, menjadi sangat besar atau menyerupai nenek-nenek.

Seorang pakampetan menginjak tanah dan bumi terasa bergetar.

Sebuah perkumpulan ormas memeragakan aksi kebal sebelum masuk ke lokasi batu besar.

Gaya warga yang hendak masuk ke lokasi batu seragam. 

Takzim dan menginjak bumi sebanyak tiga kali. 

Di antara bau dupa dan tampang sangar sejumlah peziarah, persaudaraan tumbuh.

Para anggota ormas yang berbeda saling bercengkerama dengan begitu akrab.

6. Kunci taon

Kunci taon merupakan tradisi menutup tahun lama dan membuka tahun yang baru.

Dalam tradisi ini, masyarakat akan berdandan dengan pakaian yang unik kemudian parade di jalanan.

Ada pula figura dalam tradisi ini, dimana laki-laki berdandan seperti perempuan.

Biasanya, kunci taon digelar di tanggal 31 Januari atau minggu terakhir bulan Januari di tahun yang baru.

Namun, tak ada waktu yang ajeg untuk merayakan kunci taon, bisa kapan saja.

Baca berita lainnya di: Google News.

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved