Tajuk Tamu
Pergerakan Natal Jadi Sumbu Manusia untuk Pulang ke Asal Yang Suci
Gema Natal Yesus Kristus menjadi sumbu seluruh pergerakan untuk pulang ke 'Asal Yang Suci'
Penulis:
Efraim Lengkong (Ketua Lansia GMIM Karunia Sea 1 Wilayah Malalayang Timur)
Syalom
Natal bukan hanya sebilah garis linear, tapi matriks kerinduan primordial (ikatan) yang mengandaikan momen Sang Juruselamat dalam “menyelami” diri masing-masing.
Natal Adalah "Momen Perenungan", bagi kita untuk menemukan diri yang otentik. Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus.
Sejauh ini kita sering berkeinginan untuk "melontarkan" diri dan melihat “keluar,” lalu takluk dalam simulakrum (patung): citra, prestise, status, mode, dan gaya hidup, termasuk "money politic" yang merubah tatanan iman gerejawi dijajah oleh kekuatan kekuasaan politik dunia.
Hal-hal seperti ini membuat moral manusia "tercerabut" dari kehidupan "paradiso" (surga) kebahagiaan asali" kesucian primordial (ikatan) dan tercampak dalam "inferno" (kegelapan).
Tetapi Kasih Allah dalam Yohanes 3:16 mengatakan Karena begitu besar kasih Allah sehingga diberikanNya AnakNya yang Tunggal, supaya yang percaya tidak akan binasa dan beroleh hidup yang kekal.
Suara Tuhan ini, memanggil manusia, spirit/roh/jiwa untuk selalu menyucikan dirinya dan kembali kepada Tuhan. Gema Natal Yesus Kristus menjadi sumbu seluruh pergerakan untuk pulang ke "Asal Yang Suci”, untuk menemukan dan mengenali kembali diri dalam kehidupan yang sejati.
Panggilan Natal bergema dimana - mana, mengingatkan manusia untuk selalu menyucikan rohaninya.
Natal melahirkan naluri kuat untuk kembali ke “Asal Yang Suci”. Yang dalam "teologie" bermakna esensial pesan, Alkitab dalam Lukas 2 : 10 - 11 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Lukas 2:10
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud: Lukas 2:11
Kasih Natal menjadi titik balik bagi keterpanggilan manusia, untuk selalu menyucikan dirinya dan kembali kepada Tuhan.
Pergerakan Natal menjadi sumbu manusia untuk pulang ke Asal Yang Suci. ”Dimana gerak kepastian seseorang untuk menemukan dirinya tak jauh dari titik di mana ia berangkat.
Ada kisah nyata, yang membuktikan betapa dasyatnyanya kasih Natal "power of peace and love”.
Saudara - saudara yang dikasihi Tuhan, pada 108 tahun silam, Perang Dunia1 sementara berkobar pasukan, Blok Sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dan Blok Jerman berusaha untuk menaklukkan satu sama lain.
Di malam Natal. Tentara sekutu dan Jerman sudah saling berhadap hadapan untuk saling menyerang pada dini hari, dalam penantian di malam Natal para tentara Blok Sekutu menyanyikan lagu "O Holy Night" the stars are brightly shining it is the night of our dear..... di sambung dengan lagu, Gloria, in excelsis Deo, Gloria, in excelsis Deo....
Gema suara nyanyian mereka terdengar oleh tentara Jerman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/efraim-lengkong-tajuk.jpg)