Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Wali Kota Manado Andrei Angouw Cerita Kisah Guru Jepang dalam Peringatan Hari Guru Nasional

Walikota Manado Andrei Angouw menceritakan pengalaman Jepang saat memberikan sambutan dalam upacara Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-77 tahun 2022

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
IST
Wali Kota Manado Andrei Angouw hadir dalam upacara HUT PGRI ke-77 di lapangan Tikala Manado 

Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk.

Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di dalam kongres inilah, pada 25 November 1945, 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, PGRI didirikan.

Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tengah bau mesin pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan:

1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.

2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan.

3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.

Sejak Kongres Guru Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah PGRI.

Jiwa pengabdian, tekad perjuangan, dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, PGRI tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, dan independen.

Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.

Sosok Bapak Pendidikan Nasional

Berikut profil singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional dilengkapi pendidikan dan profesinya dalam artikel ini.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889.

Ia memiliki nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat dan merupakan cucu dari Sri Paku Alam III.

Ayahnya bernama GPH Soerjaningrat.

Mengutip dari Buku Tematik Kelas 4, Tema 5 (Pahlawanku), ia menamatkan pendidikan dasar di Yogyakarta.

Kemudian, Raden Mas Suwardi Suryaningrat melanjutkan pendidikannya di Stovia.

Stovia merupakan sekolah kedokteran di Jakarta yang didirikan khususuntuk orang Indonesia.

Ia memiliki kemampuan berbahasa Belanda.

Sehingga hal tersebut digunakannya untuk menuliskan kritikan-kritikan terhadap pemerintah Belanda.

Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa yaitu sekolah nasional pertama bagi rakyat Indonesia.

Taman Siswa adalah bentuk nyata perjuangan melawan penjajah.

Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa pendidikan akan membantu mencapai tujuan yaitu kemerdekaan bangsa.

Selain itu, Ki Hajar Dewantara memiliki jasa yang sangat besar dalam pendidikan.

Oleh karena itu, ia mendapat gelar ‘Bapak Pendidikan Nasional’.

Kemudian, tanggal lahirnya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Beda Hari Guru Nasional dengan Hari Guru Sedunia

Mengutip dari laman Unesco, Hari Guru Sedunia merupakan perayaan untuk memeringati hari jadi pengadopsian rekomendasi Organisasi Buruh Internasional (ILO)/Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang Status Guru (Status of Teachers) pada 5 Oktober 1994.

Rekomendasi dari ILO/ UNESCO menjadi tolok ukur terkait hak dan tanggung jawab, standar untuk persiapan awal serta pendidikan lanjutan, perekrutan, pekerjaan, dan kondisi belajar mengajar bagi guru.

Tiga tahun kemudian, rekomendasi tentang Status Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi baru diadopsi untuk melengkapi rekomendasi pada 1966 mengenai tenaga pengajar dan peneliti di universitas.

Dalam rencana global bernama Sustainable Development Goals (SDGs), nomor 4 menekankan pada pembangunan di bidang pendidikan.

SDGs mengakui bahwa guru merupakan kunci pencapaian agenda di bidang pendidikan pada 2030.

Hari Guru Sedunia telah menjadi kesempatan untuk menandai kemajuan dan merefleksikan cara untuk melawan tantangan yang tersisa untuk promosi profesi guru.

Demikian penjelasan perbedaan Hari Guru Nasional dengan Hari Guru Sedunia. Meski punya perbedaan sejarah, namun keduanya selalu diperingati setiap tahun agar masyarakat selalu menghargai perjuangan dan profesi para guru baik di masa lalu maupun di masa yang akan datang.

Baca Berita Tribun Manado disini

Baca juga: Disdukcapil Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara Terus Pacu Perekaman e-KTP Bagi Warga

Baca juga: 21 Medali Emas untuk Sangihe di Ajang Porprov Sulut 2022

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved