Tragedi Stadion Kanjuruhan

Apa Dampak Menghirup Gas Air Mata?

Korban meninggal dunia dalam insiden Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022/2023 pada telah mencapai 125 orang. 

Kolase Tribun Manado/Istimewa/HO
Gas air mata adalah istilah umum untuk bahan kimia yang mengiritasi kulit, paru-paru, mata, dan tenggorokan. Bahan kimia ini kerap digunakan untuk mengurai massa yang mulai bertindak anarki. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Indonesia tengah berduka akibat tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022).

Banyak korban berjatuhan akibat terinjak-injak, sesak napas, dan gas air mata.

Korban meninggal dunia dalam insiden Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022/2023 pada telah mencapai 125 orang. 

Baca juga: Pantas LIB Tolak Laga Arema vs Persebaya Digelar Sore Hari, Ternyata Ini Alasannya, Berujung Tragedi

Salah satu yang menjadi sorotan ialah penggunaan Gas air mata oleh pihak kepolisian.

Gas air mata adalah istilah umum untuk bahan kimia yang mengiritasi kulit, paru-paru, mata, dan tenggorokan.

Bahan kimia ini kerap digunakan untuk mengurai massa yang mulai bertindak anarki.

Baru-baru ini, penggunaan gas air mata menjadi sorotan publik lantaran dipakai untuk menghalau ribuan suporter yang turun ke lapangan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022).

Akibatnya, sebanyak 125 orang dilaporkan meninggal dunia akibat insiden yang kini tercatat sebagai salah satu kerusuhan sepak bola terburuk di dunia tersebut.

Faktanya, gas air mata ini juga digunakan dalam tragedi sepak bola di belahan dunia lainnya, seperti tragedi sepak bola di Graha 2001 hingga Tragedi Lima 1964 dalam laga Peru vs Argentina.

Lantas, seberapa bahaya penggunaan gas air mata? Apakah gas air mata bisa menyebabkan kematian?

Bisa sebabkan kematian

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr. Erlang Samudero Sp.P(k) mengatakan, gas air mata bisa mengakibatkan kematian pada pasien tertentu.

"Bisa (menyebabkan kematian), tergantung konsentrasi dan penyakit komorbid pasien," terangnya, saat dihubungi oleh Kompas.com, Senin (3/10/2022).

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved