Minsel Sulawesi Utara

Semester Pertama 2022, Kasus Pencabulan di Minsel Sulawesi Utara Naik Hampir 100 Persen

Kasus pencabulan anak dibawah umur di wilayah hukum Polres Minahasa Selatan (Minsel) mengalami peningkatan menghampiri 100 persen

Penulis: Manuel Mamoto | Editor: Chintya Rantung
Ist
Kasat Reskrim Minsel Sulawesi Utara Iptu Lesly Deiby Lihawa 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kapolres Minsel AKBP C Bambang Harleyanto melalui Kasat Reskrim Iptu Lesly Deiby Lihawa, mengatakan Kasus pencabulan anak dibawah umur di wilayah hukum Polres Minahasa Selatan (Minsel) mengalami peningkatan menghampiri 100 persen pada tahun 2022 ini dibandingkan kasus yang ditangani pada 2021 kemarin.

Lihawa saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (18/8/2022) menyampaikan Total kasus yang ditangani pada 2022 sebanyak 30 kasus, sedangkan tahun 2020 sebanyak 17 kasus.

"Memang untuk tahun 2022 ini kenaikan kasus pencabulan anak dibawah umur atau Cabul sangat mencolok menghampiri 100 persen, tercatat, pada bulan Januari hingga bulan Juli 2020 sebanyak 17 kasus, sedangkan tahun 2022 ini dari bulan Januari sampai akhir Juli kemarin mencapai 30 kasus," ujar Lihawa.

Menurut Lihawa modus operandi yang dilakukan para pelaku rata-rata pengaruh dari media sosial.

"Modus para pelaku yang paling pertama melalui media sosial itupun termasuk kecangihan tehnologi, mereka bisa mengakses serta menyimpan video porno, dan modus perkenalan singkat percintaan pacaran lewat medsos didalamnya ada ajakan bujuk rayu, selanjutnya modus dari keluarga terdekat baik dari paman/om, ayah kandung, ayah tiri, tetangga, adapun biasa dari orang pekerja atau pegawai dirumah itu,"terang Lihawa.

Lihawa menghimbau agar supaya tidak bertambahnya kasus pencabulan atau kekerasan seksual terhadap anak atau meminimalisir kasus ini sedini mungkin melakukan pencegahan.

"Sebelum ada penegakan hukum terjadi maka lakukanlah terlebih dahulu pencegahan, ingat pencegahan bukan hanya datang dari kepolisian tetapi bisa dari pihak sekolah-sekolah melalui para guru, orang tua juga perlu mengontrol anak perempuanya ketika pulang sekolah tidak pulang kerumah, kalaupun dimalam hari jam 10 malam tidak pulang itu perlu adanya pengawasan, tidak salah kalau orang tua memeriksa HP anak, diharapkan juga peran masyarakat kalau melihat kerumunan hingga tengah malam dipantai atau dimana tempat sebaiknya ditegur untuk pulang," jelas Lihawa

Dari pihak kepolisian sendiri dalam pencegahan selalu melakukan sosialisasi ditempat umum dan disekolah-sekolah serta ditempat rawan bagi kaum milinea yang dijadikan pertemuan mereka.

"Peran kami selalu melakukan sosialisasi disekolah-sekolah, patroli secara berkala dipantai, ditempat-tempat hiburan dan ditempat lainnya yang dijadikan tempat tongkrongan anak-anak muda apalagi mereka masih dibawah umur," tegas Lihawa.

Perlu diketahui kasus ini ketika terjadi pemaksaan atau ancaman terdapat anak untuk melakukan persetubuhan, maka tindakan tersebut merupakan pencabulan, sehingga dapat dikenai ancaman pidana. Sebagaimana telah diatur dalam undang – undang perlindungan anak tersebut, ditetapkan sanksi pidana kepada pelaku yang dimuat dalam pasal 81.

"Dalam pasal 81 undang – undang perlindungan anak tahun 2014 no 35 tersebut, ada tiga hal yang menjadi sorotan. Hal utama yang disoroti adalah pelaku pencabulan akan dikenai sanksi pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak 5 miliar rupiah. Jadi jangan coba-coba melakukan hal yang nikmat sesaat dengan sesat maka terali besi menunggu anda,"tandasnya. (Isak)

Baca juga: Baru Terungkap Bharada E Bungkam Isu Brigadir J Berselingkuh, Deolipa Sindir Ferdy Sambo LGBT

Baca juga: Sejumlah ASN Pemkot Tomohon Jadi Saksi Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Komputer dan Aplikasinya

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved