Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sains

Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Naik Jadi Endangered, Terancam Kepunahan dalam Waktu Dekat

Status konservasi monyet ekor panjang meningkat jadi Endangered menurut IUCN. Banyak kasus yang dialami monyet ekor panjang sehingga terancam punah.

Editor: Isvara Savitri
Kompas.com/JAAN via BBC INDONESIA
Monyet ekor panjang bernama Dede direhabilitasi oleh Jakarta Aid Animal Network setelah sebelumnya dijual dan dijadikan konten video unboxing. Kini, status konservasi monyet ekor panjang meningkat jadi Endangered versi IUCN. 

Wendi menegaskan, ada beberapa alasan mengapa monyet ekor panjang ini harus dijaga bersama populasinya.

1. Berperan besar dalam pelestarian ekosistem

Selain populasinya yang semakin terancam hampir punah ini, monyet ekor panjang dianggap sangat berkontribusi dalam kelestarian lingkungan, ekosistem dan rantai makanan di alam liar.

“Mereka (monyet ekor panjang) merupakan hewan yang hidup di alam liar, berkelompok hampir 50 ekor, dan memiliki fungsi tersendiri, seperti penyebar biji dan bagian dari rantai makanan di alam liar,” jelas Wendi.

Hal ini pun juga ditambahkan oleh Southeast Asian Primatological Association sekaligus relawan di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga, Rheza Maulana dalam kesempatan yang sama.

Baca juga: Kecelakaan Maut Tadi Pukul 05.12 WIB, 3 Orang Penumpang Tewas, Mobil Tabrak Belakang Truk Tangki

Baca juga: Deolipa Yumara Bongkar Kebiadaban Ferdy Sambo, Ternyata Suami Putri Ikut Menembak Brigadir J

Rheza mengatakan, satwa liar tidak sama dengan hewan peliharaan, terutama monyet ekor panjang, karena mereka hidup berdampingan dengan satwa liar lainnya dan mereka hidup jauh dengan manusia.

2. Berisiko membawa penyakit zoonosis kepada manusia

Selain itu, monyet ekor panjang ini memang merupakan satwa alam liar atau bebas, yang tidak seharusnya dipelihara atau diperjual belikan secara ilegal, karena ada berbagai risiko yang akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia itu sendiri.

“Tidak hanya itu, satwa liar juga tidak boleh dipelihara karena dapat membawa dan menularkan penyakit, seperti penyakit AIDS, Salmonella, Ebola, dan Rabies,” kata Wendi.

Rheza menambahkan, monyet ekor panjang berisiko membawa penyakit kepada manusia karena terdapat sylvatic cycle.

Monyet di India Balas Dendam Bunuh Ratusan Anjing yang Bunuh Anaknya.
Monyet di India Balas Dendam Bunuh Ratusan Anjing yang Bunuh Anaknya. (Internet/Istimewa)

Sylvatic cycle ini merupakan penyakit yang seharusnya tersegel di dalam hutan, tetapi aktivitas manusia bisa melepas penyakit tersebut masuk ke dunia manusia dengan membawa satwa liar itu sebagai hewan peliharaan di lingkungan sekitar manusia.

“Kebanyakan pandemi manusia yang terjadi sampai sekarang, diklasifikasikan sebagai zoonosis, atau penyakit yang menular dari satwa liar. Di antaranya sejarah panjang penyakit menular yang disebarkan oleh primata yang bukan manusia. Seperti AIDS, Rabies, dan Herpes,” ujar Rheza.

Oleh sebab itu, para aktivis atau penggiat lingkungan mengingatkan, bahwa sangat bijak untuk membiarkan satwa liar ini hidup di alam atau habitatnya di hutan.

Baca juga: Daftar Nama Pejabat Eselon III dan IV Boltim Sulawesi Utara yang Dilantik Bupati Sam Sachrul Mamonto

Baca juga: Anies Baswedan Kini Luncurkan Sistem Jakhabitat, Pamerkan Program Rumah DP Rp 0 Pemprov DKI

Dengan membiarkan satwa liar termasuk monyet ekor panjang ini berkeliaran dan hidup di hutan, artinya kita akan membuat perlindungan untuk diri kita sendiri juga, lingkungan manusia dan keluarga kita.(*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan".

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved