Gempa Bumi
Soal Gempa Magnitudo 8,7 Intai Pesisir Cilacap, BMKG Sebut Potensi Tsunami Setinggi 10 Meter
Gempa bumi berpotensi di wilayah pesisir Selatan Jawa hingga potensi tsunami setinggi 10 meter
TRIBUNMANADO.CO.ID - Terkait gempa bumi yang berpotensi terjadi di wilayah di Indonesia.
Diketahui belum lama ini ingatkan BMKG terkait gempa hingga potensi Tsunami di pesisir Selatan Jawa.
Terkait hal tersebut begini penjelasan dari pihak BMKG.
Baca juga: Ditemukan di Rumah Persembunyian di Kabul, Kronologi Tewasnya Pemimpin Al Qaeda Ayman Al Zawahiri
Baca juga: Akhirnya Terungkap, Sosok Pemegang Rekor Pencetak Gol Tertua di Piala Dunia Pernah Main di Liga 1
Baca juga: Nasib Bripka Ricky Saksi Mata Penting Terkait Penembakan Brigadir J di Rumah Kadiv Propam
Foto : Ilustrasi gempa bumi di wilayah Indonesia. (Istimewa)
Masyarakat diminta tenang berkenaan dengan adanya potensi tsunami setinggi 10 meter di Cilacap, Jawa Tengah.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus monitoring aktivitas gempa bumi dan tsunami di Indonesia setiap saat.
"Kepada masyarakat pesisir selatan Jawa, khususnya Kabupaten Cilacap, diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie, melalui keterangan tertulis yang dikutip, Selasa (2/8/2022).
Ajie menjelaskan, Cilacap merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami.
Secara geotektonik, terdapat zona subduksi, yaitu daerah pertemuan lempeng Indo-Australia yang masuk menyusup ke bawah lempeng Eurasia di utara.
"Akibat dari aktivitas di zona subduksi ini, berdasarkan kajian saintifik, ada tiga segmen zona megathrust di selatan Pulau Jawa yang menyimpan akumulasi energi gempa bumi terpicu bisa mencapai magnitudo 8,7," jelas Ajie.
Kata Ajie, gempa bumi dan tsunami adalah peristiwa alam yang hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan terjadinya.
"Potensi gempa bumi dengan magnitudo 8,7 (di selatan Cilacap) bukanlah prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada yang tahu," ujar Ajie.
Semua pihak, menurutnya, masih memiliki waktu untuk menyiapkan diri dan menata mitigasi bencana sebaik mungkin.
"Upaya pengurangan risiko bencana melalui tahapan mitigasi yang tepat harus dilakukan sedini mungkin dan bersifat pentahelix agar kita dapat mengantisipasi segala dampak yang mungkin terjadi menuju target keselamatan infrastruktur dan minim korban jiwa (zero victim) di daerah terdampak," kata Ajie.