Ekonomi

Risiko Inflasi Membayangi Indonesia, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Lebih Rendah, Ini Penjelasan BI

Perlambatan ekspor dan inflasi dilihat sebagai penahan pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Berikut penjelasan Bank Indonesia.

Editor: Isvara Savitri
IST
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Perlambatan ekspor dan inflasi bisa menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Saat ini pandemi virus corona (COVID-19) dianggap sudah mereda.

Pemulihan ekonomi pun masih terus dilakukan berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Namun, Bank Indonesia (BI) melihat masih ada risiko.

Risiko tersebut berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Perry mengatakan, risiko yang bisa menahan pertumbuhan ekonomi dalam negeri berasal dari potensi kinerja ekspor yang tak setinggi pada tahun lalu dan kenaikan harga-harga (inflasi).

Baca juga: Nasib Tragis Pengantin ini, Baru Sah Menikah, Sang Istri Tiba-tiba Jatuh Tertembak Peluru Nyasar

Baca juga: Profil Moon Ga Young, Jadi Aktris Sejak Kecil, Pukau Penonton Melalui Drakor Link: Eat, Love, Kill

Menurut Perry, kinerja ekspor tidak selamanya bisa tinggi.

“Ke depan, kinerja ekspor akan dipengaruhi perlambatan ekonomi global, karena permintaan global yang akan terpengaruh dengan perlambatan ekonomi global. Ini memengaruhi kinerja ekspor,” tutur Perry dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (21/7/2022) secara daring.

Sedangkan dari sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari batas atas inflasi yang ditetapkan oleh BI, yang sebesar 4 persen yoy.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Tribunnews.com)

Perkiraan Perry, inflasi ada berada di kisaran 4,5 persen yoy hingga 4,6 persen yoy.

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved