Human Interest Story
Kisah Mantan Pembunuh di Manado yang Jadi Barista
"Sesuai namanya second change yakni kesempatan kedua, inilah kesempatan bagi mereka mantan narapidana untuk hidup berguna dan menjadi berkat."
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Entah mengapa, baca Alkitab yang sebelumnya terasa membosankan, di dalam penjara jadi sesuatu yang asyik.
"Setiap baca Alkitab saya jadi damai," katanya.
Hati yang sudah dicangkul ayat Alkitab, lantas ditanami tanaman baru oleh para penginjil. Mereka adalah para preman tobat.
"Dari situ saya benar - benar bertobat, mengaku dosa saya di hadapan Tuhan. Setelah itu serasa ada sesuatu yang baru dalam hati saya. Menurut seorang penginjil, itulah damai sejahtera," katanya.
Damai itu menelanjanginya. Ia tak punya sesuatu untuk hidup. Dia perlu sesuatu agar hidupnya jadi berkat. Agar damai dalam dirinya bisa dinikmati. Pucuk dicinta ulam tiba.
"Saat itu ada pelatihan Barista dari Inspire Indonesia, saya tak punya pengalaman buat kopi, tapi bela - belain ikut.
Ternyata saya bisa. Bahkan saya terpilih dalam program sebuah lembaga untuk meneruskan karier sebagai barista jika keluar dari penjara," kata dia.
Sempat menjalani magang di sebuah rumah kopi, akhirnya ia menjadi barista tetap. Dengan beroleh penghasilan.
Salah satu kopi buatan andalannya adalah kopi rasa buah. Mengecapnya betul - betul membawa damai di hati.
"Berbuat salah adalah pilihan manusia, tapi lahir kembali adalah anugerah Tuhan. Saya sangat beruntung sebagai manusia," katanya.
Rumah kopi tempatnya bekerja memang mempekerjakan para mantan narapidana sebagai barista.
Mereka dididik ketrampilan, mental serta rohani, agar dapat menjaga tenaga kerja yang terampil.
"Sesuai namanya second change yakni kesempatan kedua, inilah kesempatan bagi mereka mantan narapidana untuk hidup berguna dan menjadi berkat untuk orang lain," Manajer Second Change Edward Rumambi.
Ungkap dia, ide untuk mempekerjakan para mantan narapidana datang dari ketua yayasan Inspire Indonesia Manado.
Saat sang ketua mengajari sepakbola di lapas, para narapidana mengeluh tentang masa depan setelah keluar dari Lapas.