Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bitung

Wali Kota Bitung Maurits Mantiri, Tertarik Budidaya Maggot dari Sampah

Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens.

Istimewa.
Walikota Bitung Maurits Mantiri dan jajaran ketika melihat budiday Moggot di TPA Karangdiyeng di Kota Mojokerto Jatim 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID – Pemerintah Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tertarik dengan budidaya Moggot dari sampah buah atau sayur.

Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens dalam bahasa Latin. 

Seperti yang sudah disebutkan bahwa maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat dewasa.

Menurut Wali kota Bitung Maurits Mantiri, budidaya Moggot, budidaya Moggot sudah dilakukan oleh kelompok Tani bernama Masyarakat Sejahterakan Perani di Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur (Jatim.

“Jadi, kemarin kami bersama Kadis Lingkungan Hidup Merianti Dumbela dan Kadis PUPR Rudy Theno, melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke tempat pembuangan akhir (TPA) Karangdiyeng Kota Monokerto.

Di sana organik diolah jadi biokonversi maggot dan ini yang menarik karena bisa diterapkan di TPA Aertembaga kota Bitung,” kata Maurits Mantiri dalam keterangan resmi, Kamis (7/4/2022). 

Di lokasi TPA Karangdiyeng, Walikota Bitung dan kajaran mengagumi inovasi pengolahan sampah yang dilakukan kelompok Tani Masyarakat Sejahterakan Petani.

Memadukan pertanian dengan nama program pertanian teradu berbasis sampah kota, dengan memanfaatkan maggot. 

Selain itu di TPA Karangdiyeng, ada dua manfaat yang didapatkan dari pengolahan sampah, yakni sampah non organik diolah menjadi paving blok dan ganteng. 

Terkait dengan budidaya maggot, menurut Walikota Bitung tidak begitu sulit untuk dikembangkan.

Mengingat maggot berkembang biak dengan alami di alam sehingga mudah untuk mendapatkannya. 

Maggot bertahan hidup pada lingkungan tropis maupun subtropis sehingga potensi mengembangbiakannya sangat mudah dilakukan di Indonesia, termasuk kota Bitung yang memiliki iklim tropis.

“Untuk mendatangkan maggot pada dasarnya cukup mudah. Makanya setelah ini, kami akan mengirim utusan akan mengikuti pelatihan di TPA Karangdiyeng,” janjinya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Bitung Marianti Dumbela menambahkan, terkait dengan manfaat dari maggot ini bisa di aplikasikan sebagai pakan ternak serta untuk pakan ikan peliharaan karena proteinnya sangat tinggi.

Merianti menjelaskan, budidaya magot 1 kilogram (kg) telor lalat di campur  2 kg sampah buah atau sayur per hari sampai menetas.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved