Breaking News
Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pantas Harga Pertamax Naik Drastis Hingga Erick Thohir Minta Maaf, Ternyata Tak Bisa Lakukan Ini

Menurut Erick, kenaikan ini juga disebabkan lantaran Pertamax bukan produk BBM yang disubsidi.

Editor: Alpen Martinus
istimewa via Tribunnews
Menteri BUMN Erick Thohir. Soal harga Pertamax naik, Erick Thohir minta maaf, pemerintah diminta konsisten hingga tanggapan pengamat. 

Ia menilai, sikap konsistensi dari pemerintah merupakan hal yang penting agar kebijakannya mudah dipahami dan mendapat dukungan publik.

"Contohnya terkait dengan harga Pertamax. Di awal-awal pandemi saat harga migas dunia anjlok pada titik terendah, pemerintah tidak menurunkan harga Pertamax," kata Mulyanto saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (1/4/2022).

"Sekarang, saat harga migas naik, pemerintah (saat itu) segera mewacanakan untuk menaikkan harga Pertamax. Ini kan tidak konsisten, masyarakat pada posisi yang tidak diuntungkan,” sambungnya.

Akibat pemerintah tidak bersikap konsisten, kata Mulyanto, masyarakat akhirnya tidak dapat membedakan mana BBM jenis umum, BBM khusus penugasan dan BBM bersubsidi, karena semua harga BBM diatur pemerintah.

"Ke depan pemerintah harus konsisten terkait kebijakan BBM jenis umum, yang harganya bergerak sesuai mekanisme pasar. Biar pasar yang menentukan harga itu melalui kompetisi yang adil antara pertamina dan swasta lainnya, sehingga terbentuk harga yang fair," ujar politikus PKS itu.

Mulyanto pun menyebut, kenaikan harga Pertamax secara langsung akan menekan Pertalite, karena ke depan diperkirakan pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite seiring selisih harga yang lebar.

"Seharusnya kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat yang masih belum pulih benar, karena diterpa pandemi Covid-19 atau kalau dalam istilah ibu Menkeu (Sri Mulyani), agar tidak menimbulkan market shock," papar Mulyanto.

Pengamat Nilai Kenaikan Harga Pertamax Cukup Bijak

Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, pemerintah dan PT Pertamina (Persero) cukup bijak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan tidak menaikkan harga Pertalite.

Dengan keputusan tersebut, dampak kenaikan BBM diperkirakan minim karena konsumen Pertamax adalah kalangan menengah atas.

Piter Abdullah, menilai keputusan menaikkan harga Pertamax lebih kepada pertimbangan agar tidak berdampak terlalu besar terhadap masyarakat khususnya kelompok bawah.

Bagi sekelompok konsumen kenaikan harga Pertamax bisa mendorong peralihan (shifting) ke pertalite. Tapi kelompok masyarakat yang benar-benar mampu tidak akan beralih.

“Mereka lebih sayang dengan mobil mewah mereka,” kata Piter di Jakarta, Jumat (1/4/2022).

Menurut Piter, untuk mengantisipasi terjadinya shifting, hanya ada satu yang perlu disiapkan yakni memastikan pasokan pertalite mencukupi.

Menurut dia, peralihan konsumsi tidak perlu dilawan karena nanti pada waktunya konsumen akan kembali lagi ke pertamax.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved