Berita Minahasa
Keluarga Bantah SM, Warga Desa Talikuran Minahasa Meninggal Karena Covid
Terkait adanya penolakan dari pihak keluarga bahwa salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia karena dinyatakan positif Covid-19
Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Keluarga membantah wanita berinisial SM warga Talikuran Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara meninggal karena covid.
Pihak keluarga menyesalkan, pihak rumah sakit yang menyatakan salah satu anggota keluarga positif Covid-19.
Kejadian tersebut terjadi pada Pukul 16.30 wita di Rumah Sakit Bethesda, Tomohon.
SM (47) tahun jenis kelamin perempuan warga Desa Talikuran dinyatakan meninggal oleh Pihak Rumah Sakit Bethesda akibat terkonfirmasi Positif Covid-19 .
Keputusan pihak RS Bethesda Tomohon bahwa pasien meninggal dunia karena Covid 19 ini tidak di terima oleh keluarga.
Salah satu anggota keluarga, Marlon Sumarandak membantah bahwa SM dinyatakan positif Covid-19 oleh pihak RS Bethesda.
"Saya nyatakan bahwa almarhumah tidak terpapar covid, kami keluarga kecewa dengan keputusan RS Bethesda yang menyatakan Almarhuma positif Covid," kata Marlon kepada Tribunmanado.co.id, Sabtu (26/2/2022).
Dirinya menjelaskan, Kronologis almarhumah sebelum meninggal Selasa 22 Februari almarhum melakukan cuci darah di Rumah sakit Siloam Manado karena mengidap penyakit gagal ginjal dan darah tinggi sehingga secara rutin setiap Selasa dan Jumat melakukan Cuci darah di RS Siloam Manado.
"Jadi setiap kali ke rumah sakit almarhum dan suami harus melewati pemeriksaan COVID (swab). Dan setelah melakukan cuci darah hari itu juga almarhum kembali ke Remboken dan beristirahat di tempat tidur, dan tidak ada satupun anggota keluarga yang menjalani Isomam atau sakit," jelas Marlon.
Dia melanjutkan Kamis subuh kurang lebih pukul 03.00 Wita almarhumah mengalami drop dan dilarikan ke Rumah sakit Siloam karena Jumat harus melakukan cuci darah.
Tetapi masih di perjalanan (daerah kinilow) Almarhumah tidak sadarkan diri, dan kendaraan balik menuju RS Bethesda Tomohon.
Setiba di RS almarhum di ensi darah dan menunjukkan angka 269 dan dokter langsung menyuruh keluarga keluar untuk melakukan upaya-upaya agar almarhum bole kembali sadar.
"Nah, 45 menit kemudian sesuai dengan info yang disampaikan kakak almarhum di grup WA keluarga almarhumah sudah meninggal. Dokter menyampaikan kepada keluarga bahwa almarhum tidak bisa tertolong karena mengalami strok akibat pecah pembuluh darah," urainya.
Beberapa menit kemudian jenazah almarhum dibawa ke kamar jenazah. Tidak sampai satu jam kemudian perawat menginformasikan penyebab kematian almarhum karena Covid tanpa ada surat resmi hasil pemeriksaan bahwa almarhum positif Covid.
"Padahal keluarga yang mengantar almarhum tidak ada satu pun yang terpapar covid dan orang-orang yang ada di rumah di mana almarhum tinggal tidak ada yang Isoman atau sakit, apakah ini bisa di bilang covid," katanya