Inspirasi

Awalnya Chef Ini Diputus Kontrak dari Salah Satu Kafe, Akhirnya Kini Jadi Juragan Bebek Goreng

Kisah seorang chef yang diputus kontrak dari salah satu kafe di Badung. Awalnya tak punya pekerjaan hingga akhirnya kini jadi juragan bebek goreng.

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Boni Rahadianto, Masterchef yang diputus kontrak dari pekerjaannya di sebuah kafe di Bali, sukses jadi juragan bebek yang jualannya laris manik. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kisah seorang chef yang diputus kontrak dari salah satu kafe di Badung

Awalnya tak punya pekerjaan hingga akhirnya kini jadi juragan bebek goreng. Simak kisahnya.

Kisah Boni Rahadianto. Chef yang diputus kontrak dari salah satu kafe kelas wahid di Tibubeneng, Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Baca juga: Wakil Wali Kota Bitung Hengky Honandar Serahkan SK Pelaksana Tugas, Berikut Daftarnya

Baca juga: Anggota DPRD Bolmong Dukung Yasti Mokoagow Pimpin Bolmong Satu Kali Lagi

Baca juga: Tanda Virus Corona Omicron Sudah Serang Anak-anak, Ini Bedanya dengan Dewasa

Boni Rahadianto, Masterchef yang diputus kontrak dari pekerjaannya di sebuah kafe di Bali, sukses jadi juragan bebek yang jualannya laris manik.

Boni Rahadianto, Masterchef yang diputus kontrak dari pekerjaannya di sebuah kafe di Bali, sukses jadi juragan bebek yang jualannya laris manik. (TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA)

Sudah dua tahun sejak pandemi covid 19 Boni Rahadianto harus memutar otak karena diputus kontrak pekerjaan.

Boni memutuskan pulang kampung ke Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.

Kini ia memulai bisnis kuliner bebek goreng dengan ciri khas perpaduan rasa Surabaya dan Madura.

Ketika ditemui di lapak miliknya di areal parkir peken atau pasar Ijogading, Kecamatan Jembrana, Boni mengaku pilihan membuka usaha sendiri ini karena pemutusan kontrak dari salah satu kafe “bintang lima” di kawasan Canggu Tibubeneng Badung.

Pihak manajemen kafe tidak sanggup lagi menggajinya setahun lalu.

Karena itu, dia berpindah ke kampung halaman untuk membuka kuliner lalapan bebek goreng dan ayam kampong yang sudah dijalaninya sejak tujuh bulan terkahir.

“Ini sudah jalan tujuh bulan. Sebelumnya, saya kan di kafe tersebut, tapi end kontrak. Sempat saya bertahan di Denpasar, enam bulan. Tapi terus memutuskan buka sendiri saja di kampung istri di Desa Pulukan,” ucap pria asal Surabaya Jawa Timur tersebut, Senin (21/2).

Awal membuka sendiri, dilakukan di lahan milik mertuanya di Desa Pulukan. Pilihan bebek goreng dan lalapan ayam kampung karena di wilayah Jembrana mulai dari Gilimanuk hingga Pekutatan cukup sepi orang berjualan jenis kuliner, terutama bebek.

Ayam kampung menjadi menu pilihan kedua, sedangkan bebek ialah menu utama. Karena daya beli masyarakat yang kurang tinggi di daerah pinggiran (Desa Pulukan), maka ia memilih untuk di Pasar Ijogading (pusat Kota Jembrana).

Menu bebek yang memadukan ciri khas rasa Surabaya dan Madura pun laris manis selama beberapa bulan terakhir.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved