Berita Nasional
Ingat Hardius Rusman? Anggota TNI yang Fasih 7 Bahasa Asing, Tak Pernah Belajar Secara Formal
Hardius Rusman hanya seorang Prajurit TNI lulusan SMA. Meski begitu, ia memiliki prestasi yang begitu epic. Ia hanya belajar melalui media sosial.
Ia juga mengaku belum pernah bertemu dengan orang tersebut hanya melalui voice call.
Lewat voice call-lah Koptu Hardius melatih bahasa asing yang ia pelajari langsung dari penutur aslinya.
Untuk memperlancar bahasa asing yang dipelajari, Koptu Hardius sering meluangkan waktu berbicara dengan native speaker sekitar 30 menit melalui voice call.
Dari sanalah ia tau bagaimana mengucapkan kosa kata sekaligus koreksi dari lawan bicaranya.
"Saya memang hampir tiap hari menyempatkan diri berbicara sekitar tiga puluh menit dengan teman-teman dari berbagai negara secara bergantian dalam tujuh bahasa asing yang saya kuasai,” beber dia.
Padahal Koptu Hardius hanya tamatan SMA dan pangkatnya sebagai anggota TNI AD juga termasuk rendah.
Seperti yang diberitakan, kemampuannya ini pun memperoleh apresiasi dari istri dari 28 atase militer yang berasal dari 22 negara saat berkunnjung ke aceh.
Para istri atase militer ini terkesan dengan kemampuan Hardius menjelaskan setiap objek yang dikunjungi.
Mereka puas karena ketika ditanya banyak hal tentang lokasi yang dikunjungi dapat dijelaskan Koptu Hardius menggunakan bahasa asal mereka.
Kunjungan para atase militer ini menjadi agenda rutin tahunan yang diselenggarakan Mabes TNI untuk tujuan memperkenalkan lebih jauh budaya Indonesia.
Sekilas, prajurit ini memang terlihat biasa saja, tetapi siapa sangka jika ternyata dia mampu menguasai 7 bahasa dunia.
Tak heran banyak keluarga atase yang menjadikan dirinya sebagai tempat bertanya.
“Kepada para ibu atase militer dari 22 negara itu, saya lebih banyak mempromosikan Aceh," ucap Koptu Hardius.
"Jujur saya sangat sayang dengan Aceh," kata pria kelahiran Bengkulu 1984 ini pada wawancara Selasa (4/12/2019) lalu.
Koptu Hardius sengaja ditugaskan ke Aceh atas perintah Aspes Kodam Iskandar Muda sebagai penerjemah bagi para istri dari atase militer 22 negara sahabat.