Breaking News:

Tribun History

Gereja Katolik St Ignatius Manado, Dulunya Bioskop dan Kampus, Kini Termegah di Manado

Sejak saat itu, mulailah dikenal Gereja Katolik di Manado Utara atau juga yang disebut dengan nama Gereja Klabat.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Aldi Ponge
Tribun Manado/Fernando Lumowa
Gereja Katolik Santo Ignatius Manado 

Akhirnya setelah dana terkumpul, seorang arsitek Belanda yang beragama Katolik, diminta membuat rancangan gereja. Ia menggambar dengan cuma-cuma.

Sementara untuk pelaksanaan pembangunan yang menjadi pemborong ialah Que Goan Wi, dengan anggaran 7,625 Gulden. Pada tanggal 24 Juni 1947, “ Pembangunan Gereja Darurat” dimulai dan selesai pada tanggal 9 November 1947.

Umat katolik Manado Utara sudah merasa senang karena sudah punya Gereja Darurat dan mereka tidak perlu jalan kaki untuk misa di Gereja Katedral di Jalan Sam Ratulangi.

Pertambahan jumlah umat Katolik di Manado Utara terus meningkat, dan gereja tidak dapat lagi menampung seluruh umat pada perayaan misa.

Akhirnya sebagian umat harus pergi lagi mengikuti misa di Gereja Katedral. Selang beberapa tahun, pada setiap perayaan misa, para frater harus angkat bangku dari sekolah dan dibawa ke gereja.

Kembali ke tahun 1950-an, Uskup menugaskan kepada Pastor C.van Bavel sebagai Pastor Paroki untuk mencari tanah yang bisa dipakai bagi pembangunan gereja baru karena Manado Utara telah menjadi satu paroki.

Pastor C. Bavel MSC melihat perintah Mgr Verhoeven MSC sebagai satu tugas yang sangat berat namun sekaligus sebagai satu kehormatan.

Bavel melihat tanah kosong yang ada di samping rumah frater, milik dr Karamoy, sebagai tempat yang baik untuk lokasi gereja paroki, namun ternyata ia tidak berhasil mendapatkannya. Para ahli waris tanah itu tidak bersedia menjualnya.

Sampai masa tugasnya berakhir di Paroki St. Ignatius, ia belum sempat mendapatkan tanah di muka Bioskop Manado, di Jalan Walanda Maramis, yang pernah untuk pertama kali para frater membuka sekolah mereka, cocok untuk lokasi gedung gereja.

Ada juga tanah lain sebagai pilihan kedua, yang ada di jalan Dr Sutomo. Tanah ini merupakan lapangan tenis milik pemerintah Kodya Manado dan dirasa sebagai tempat yang cocok untuk menjadi lokasi gereja baru. Tetapi rupanya kedua tanah ini gagal di beli.

Akhirnya gereja darurat jalan terus. Karena kesulitan mendapatkan tanah baru untuk pembangunan gereja.

Juni 1957 Mgr Verhoeven melakukan pembicaraan dengan frater dan mencapai kata sepakat untuk menjadikan tempat gereja darurat sebagai tempat pembangunan gereja paroki seterusnya. Maka gereja darurat yang sebelumnya beratap daun diganti dengan atap seng.

Pembangunan Gedung Gereja Permanen. Setelah mendapat kesepakatan dengan para frater CMM mengenai tempat gereja paroki di kompleks frater, perencanaan dan usaha pembangunan gereja baru sudah bisa dimulai. Lapangan bermain sekolah dasar frater dijadikan tempat untuk membangun gereja pengganti sementara.

Lokasi gereja darurat sebelumnya dipakai untuk membangun gedung gereja paroki yang baru, dengan arsitek Teksi Lagonda.

Tanggal 12 Juni 1957, dimulai penggalian fondasi, dan pada tanggal 24 Juni pembangunan mulai berjalan. Pada saat para tukang melakukan penggalian, di lokasi itu ditemukan sebuah sumur yang sangat dalam.

Banyak biaya yang masih dikeluarkan untuk menimbun dan menutup sumur itu dengan semen. Pastor Th.

Lumanauw Pr. sebagai pastor paroki waktu itu, merencanakan supaya pembangunan gereja diselesaikan pada tahun 1958, dan Paskah tahun itu sudah bisa dirayakan di gereja baru. Rencana itu berhasil, walau terkesan sangat tergesa-gesa. Walaupun belum rampung, tapi gereja sudah bisa dipakai.

Pada Minggu Palem, umat membersihkan gereja dan melengkapi peralatan-peralatan dalam gereja. Pada hari Kamis Putih, 3 April 1959, gereja sudah dipakai dalam keadaan bagus.

Tanggal 10 April 1959, hari kamis sesudah hari raya Paskah, jam 05.10, lonceng di menara gereja untuk pertama kali dibunyikan.

Demikian Paroki Manado Utara dengan nama pelindung St. Ignatius de Loyola, secara resmi memiliki Gedung Gereja baru, megah dan permanen di atas tanah milik Frater CMM.

Umat merasa gembira dengan selesainya pembangunan gereja paroki. Namun disayangkan, gereja ini memiliki halaman yang sangat kecil sehingga rencana untuk membangun sebuah pastoran tersendiri agak sulit dilaksanakan.

Setelah menjadi paroki dan berdiri sebuah gedung gereja yang baru, maka pastor-pastor yang pernah bertugas sebagai pastor paroki maupun pastor pembantu atau asisten di Paroki Ignatius selengkapnya ada dalam daftar terlampir.

Pemberkatan Gedung Gereja Paroki yang Baru) Paroki Santo Ignatius yang keberadaannya selama ini selalu dikategorikan sebagai paroki yang mampu namun tanpa disadari bahwa selama ini umat hanya beribadat dan melakukan aktivitas pelayanan pastoralnya di gedung gereja yang didirikan di atas tanah milik Tarekat Frater CMM, dan bukanlah tanah milik paroki atau keuskupan sendiri.

Bertepatan dengan perayaan 50 tahun Paroki St. Ignatius Manado, 01 Februari 2004, yang dirangkaikan dengan HUT dan Perpisahan dengan Pastor Cornelius van Bavel, MSC, beliau menyampaikan masukan tentang kepentingan Paroki St.Ignatius Manado, kepada Pastor Wens Maweikere, Pr.

Ia berpesan agar Pastor Wens, segera mengusahakan pendirian sebuah gereja baru, untuk umat Paroki Santo Ignatius Manado.

Melihat dan menyadari akan keberadaan umat yang makin penuh sesak di dalam gereja ditambah lagi jikalau hujan lebat air selokan naik menggenangi gereja Ignatius maka niat untuk mendapatkan tempat guna membangun gereja yang baru, semakin kuat ada dalam kehendak umat.

Melalui rapat Pleno Dewan Pastoral Paroki dan tokoh-tokoh umat, melalui pertemuan dengan para teknisi dan para pelaku ekonomi, dalam tuntunan Pastor Paroki Wens Maweikere, Pr, mulailah dibicarakan rencana Pembangunan Gedung Gereja St. Ignatius yang baru.

Pada satu kesempatan Pastor Paroki Santo Ignatius bersedia menerima dan mendengarkan masukan dari beberapa inisiator yang menghendaki permohonan ijin resmi kepada bapak Uskup, untuk dapat menggundakan laha tanah lokasi bekas bioskop Luxor atau Bioskop Manado.

Di situ juga sempat dijadikan area Kampus Unika De La Sale, samping Aula Ignatius.
Setelah melalui pembicaraan yang panjang, dengan rupa-rupa pertimbangan dan saran dari pihak Keuskupan, Uskup Manado, Mgr. Josef Suwatan, akhirnya memberikan tanah dimaksud dan mengijinkan pembangunan Gedung Gereja St.Ignatius yang baru.

Demikian, setelah dua tahun lebih menggembalakan umat Paroki St.Ignatius, Pastor Paroki Wens Maweikere Pr, bersama DPP, memutuskan membentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja Paroki St. Ignatius Manado yang baru yang diketuai oleh bapak Harry Sambuaga, bapak Ridwan Sugianto, dan bapak Fajar Anggun Putra.

DPP bersama Panitia Pembangunan yang baru terbentuk sungguh berniat dan bersemangat untuk segera memulaikan pekerjaan pembangunan ini. Tepat tanggal 11 September 2005, dilakukanlah Ibadat Upacara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja Paroki St.Ignatius yang baru, oleh Pastor Paroki St. Ignatius Manado, Wens Maweikere, Pr.

Pembangunan yang telah dimulai Pastor Wens Maweikere, Pr, kemudian dilanjutkan oleh Pastor Leontius Glen Woi, Pr, bertepatan di hari peringatan pesta Pelindung Paroki Santo Ignatius, tanggal 31 juli 201 dan 60 tahun pemekaran dan berdirinya Paroki Santo Ignatius Manado, dilaksanakanlah pemberkatan dan peresmian.

Perjalanan pambangunan gedung gereja yang baru ini berjalan dengan waktu yang cukup panjang, dengan anggaran biaya yang sangat besar, namun semua itu bisa terobati dengan kemegahan serta keindahan dari gedung gereja tersebut.

Kini, Gereja Santo Ignatius Manado berdiri megah. Gereja ini bisa dikatakan termegah dilihat dari desain dan interiornya.(fernando lumowa).

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved