Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun History

Gereja Katolik St Ignatius Manado, Dulunya Bioskop dan Kampus, Kini Termegah di Manado

Sejak saat itu, mulailah dikenal Gereja Katolik di Manado Utara atau juga yang disebut dengan nama Gereja Klabat.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Aldi Ponge
Tribun Manado/Fernando Lumowa
Gereja Katolik Santo Ignatius Manado 

Bahkan Uskup Manado, Mgr Verhoeven, pada waktu itu setelah melihat jumlah umat Katolik yang semakin banyak di wilayah Manado Utara, akhirnya merekomendasikan wilayah itu sebagai satu wilayah gerejani tersendiri, dipisahkan dari wilayah pelayanan Gereja Katedral.

Perlu dicatat, nama pelindung Santo Ignatius de Loyola, sebelumnya dipakai untuk nama pelindung Gereja di Jalan Sam Ratulangi atau Gereja Katedral sekarang.

Suasana Ibadah di Gereja Katolik Santo Ignatius Manado
Suasana Ibadah di Gereja Katolik Santo Ignatius Manado (Tribun Manado/Fernando Lumowa)

Nama pelindung Santo Ignatius de Loyola yang dipakai selama para pastor dari Serikat Yesuit (SJ) melayani dan memimpin wilayah gerejani Paroki Katedral.

Tetapi ketika paroki itu diserahkan kepada para Pastor Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), nama pelindung paroki/gereja Katedral diganti menjadi Gereja Paroki Hati Tersuci Maria Katedral.

Akhirnya, nama Ignatius dipakai sebagai nama pelindung untuk gereja di Manado Utara yang pada awalnya sebagai stasi dari Paroki Katedral.

Terhitung mulai pada tanggal 1 Februari 1954 ( Lihat Liber Baptizatorum I), wilayah gerejani Manado Utara berdiri menjadi sebuah paroki, sebagai hasil pemekaran dari Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado, dengan nama Paroki Santo Ignatius Manado Utara.

Konsekuensi dengan adanya pemekaran paroki, tentu semakin banyaknya umat dan semakin luasnya wilayah pelayanan, sehingga dirasa sudah waktunya untuk dilakukan pembagian wilayah demi efektivitas pelayanan bagi umat, dan demi semakin menunjang perkembangan dan pertambahan jumlah umat.

Setelah menjadi sebuah paroki, pada 1 Februari 1954 orang pertama yang menerima pembaptisan dan dicatat dalam buku stambuk paroki ialah saudara Joseph Tjia Tjae Huat yang menerima pembaptisan pada tanggal 4 Februari 1954 oleh Pastor C. Van Bavel MSC. Joseph dibaptis pada usia 70 tahun.

Pada tahun 1958, Paroki St. Ignatius telah memiliki gedung gereja sendiri untuk umat, dan tidak lagi memakai kapel frater, walaupun masih terletak di tempat yang sama. Sedangkan para frater membangun juga kapel untuk mereka.

Perlu diingat, gereja ini juga melewati masa darurat ketika Perang Dunia II berlangsung. Kegiatan pertama yang dilakukan para pastor setelah perang berakhir ialah mengumpulkan kembali umat Katolik Manado Utara yang tercerai berai.

Untuk membangun gedung gereja yang besar sangatlah mahal, sedangkan Misi Katolik tidak memiliki uang. Maka di ambil tindakan darurat sebagai jalan keluar.

Sementara itu, di Jalan Kema atau di Jalan Klabat dibangun sebuah kapel untuk melayani umat di wilayah utara kota.

Di atas sisa sisa fondasi dan dinding rumah tempat tinggal frater CMM, yang sangat tua yang hancur akibat perang, dibangun /dijadikan sebagai Gereja Darurat yang terbuat dari kayu dan bambu.

Gereja ini memakai atap rumbia dan seluruh dindingnya dicat warna putih dan bagian kayunya di cat dengan warna biru, sehingga gereja ini mendapat julukan Gereja Biru. Tanggal 11 November Pastor C. de Bruyn MSC memberkati dan merayakan misa pertama kali di gereja itu.

Sementara itu pastor bersama umat terus memikirkan usaha pembangunan gereja yang baru.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved