Berita Sulut
Melihat Kerukunan Umat Beragama di Sulut, Ketua PWM Sulut Ingatkan Sitou Timou Tumou Tou
Bagi Nasruddin, Sulut memiliki tiga pilar yang harus dijaga dalam konteks kerukunan umat beragama
Penulis: Isvara Savitri | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Kerukunan umat beragama di Sulawesi Utara (Sulut) membuat sebagian orang ikut terkesan.
Salah satunya adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulut, H Nasruddin Yusuf (52).
Nasruddin yang merupakan lelaki asal Medan yang sudah memimpin PWM Sulut sejak 2020 ini selalu terkesan dengan kerukunan umat beragama di Sulut.
Ketika awal datang ke Sulut, Nasruddin mengaku tidak terlalu sulit bergaul dengan warga lokal.
Awalnya Nasruddin tinggal di Perkamil yang mayoritas penduduknya beragama Islam, lalu berkeluarga dan pindah ke Likupang yang Islamnya menjadi minoritas.
Hal tersebut rupanya tidak menjadi masalah bagi Nasruddin yang lahir dan hidup dari keluarga dengan latar belakang Muhammadiyah.
"Tidak terlalu sulit untuk beradaptasi karena Manado dengan tempat kelahiran saya di Medan karakteristiknya sangat mirip," tutur Nasruddin, Rabu (17/11/2021).
Latar belakang Nasruddin yang juga pernah menjadi anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Minahasa Utara (Minut) dan saat ini menjadi anggota Badan Kerjasama Antar Umat Agama (BKSAUA) Sulut membuatnya banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh lintas agama.
"Salah satu pengalaman berkesan adalah saat saya menjadi Dosen Tamu di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng," tambah Nasruddin.
Bagi Nasruddin, Sulut memiliki tiga pilar yang harus dijaga dalam konteks kerukunan umat beragama.
Pilar pertama yaitu sosial dan budaya. Masyarakat Sulut sudah jauh meninggalkan sekat-sekat ras dan agama.
Dalam pilar pertama, ada slogan "Sitou Timou Tumou Tou" dari masyarakat Minahasa yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.
Lalu ada "Torang Samua Basudara" serta "Semua Ciptaan Tuhan".
Bagi Nasruddin, ketiga slogan tersebut merupakan ranah budaya dan sosial yang didupuk dan berhasil tumbuh di Sulut.
"Masyarakat di Sulut sudah terbiasa berbaur antar manusia dengan latar belakang berbeda sehingga memiliki jiwa terbuka dengan orang lain," kata Nasruddin.