Opini
Hari Pahlawan: Sejarah 10 November dan Spirit Kepahlawanan
“Hari Kemudian dari pada tanah kita dan rakyat kita terletak dalam hari sekarang, hari sekarang itu ialah kamu, hari Generasi Muda!"
Oleh: Jumiarti Ketang Rejo
Wakil Sekretaris Jenderal Internal
Dewan Pimpinan Pusat
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia 2019-2022
“Hari Kemudian dari pada tanah kita dan rakyat kita terletak dalam hari sekarang, hari sekarang itu ialah kamu, hari Generasi Muda!” – dr. Tjipto Mangoenkoesoemo
TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari Pahlawan kerap kali diperingati pada 10 November, hal ini sebagai alarm untuk bangsa Indonesia bahwa sejarah telah mencatat keberanian dan pengorbanan yang ditorehkan para pahlawan untuk kemerdekaan bangsa ini.
Dalam sepak terjang menuju kemerdekaan Indonesia tokoh-tokoh seperti Jenderal Soedirman, Ki Hadjar Dewantara, Kapitan Pattimura, Bung Tomo, R. A. Kartini, dan Sukarno adalah beberapa dari para pejuang kemerdekaan yang telah mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, mereka juga menonjol dalam memori masyarakat dengan perjuangannya masing-masing.
Sejarah Hari Pahlawan
Masih banyak yang belum mengetahui kenapa Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November. Sebenarnya penting bagi kita untuk mengetahui setiap peristiwa dalam sejarah Indonesia, salah satunya adalah pertempuran di Surabaya, Jawa Timur.
Pada 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan yang disebut sebagai pertempuran Surabaya, dimana pada 25 Oktober 1945, pasukan sekutu, Inggris dan Belanda menginjakkan kakinya di Surabaya setelah berhasil memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Pada 1945 pasca Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, situasi politik di Indonesia dalam keadaan yang tidak stabil dan bergejolak. Kedatangan sekutu di Indonesia tepatnya di Jakarta pada 15 September 1945 memicu terjadinya gesekkan antara sekutu dan para pejuang bersama rakyat di Surabaya.
Dikutip dalam buku Sejarah Nasional VI, Pada tanggal 19 September 1945, para pemuda dan pejuang di Surabaya dengan berani menurunkan hingga merobek warna biru pada bendera Belanda yang dikibarkan di Hotel Yamato, sehingga menyisahkan bendera berwarna merah dan putih. Akibat dari ketidakstabilan situasi pada saat itu kemudian menyebabkan sebuah perang untuk pertama kalinya yakni pada tanggal 27-30 Oktober 1945.
Dalam satu insiden pada 30 Oktober peristiwa tersebut menewaskan pemimpin pasukan sekutu, yakni Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Posisi Mallaby kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh dari Komandan Divisi 5 Inggris.
Mayor Jenderal Robert Mansergh pada 9 November 1945 mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Isi dari ultimatum tersebut adalah pertama seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri, kedua seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris, ketiga para pemimpin Indonesia di Surabaya harus bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.
Sontak Ultimatum yang dikeluarkan Mansergh berbuah perlawanan dari para pejuang dan arek-arek Surabaya, sehingga mengakibatkan perang besar terjadi yang menelan banyak korban dan menyebabkan kota Surabaya menjadi hancur. Tragedi ini kemudian dikenal dengan Peristiwa 10 November 1945.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jumiarti-ketang-rejo-wakil-sekreteris-jenderal-internal-dpp-gmni.jpg)