Minggu, 31 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

KKB di Papua

Jangan Sebut Teroris, Kepala Densus 88 Irjen Martinus Hukom Punya Strategi Rangkul KKB Balik ke NKRI

Irjen Martinus Hukom pun menjelaskan strategi untuk merangkul para oknum KKB agar bisa kembali ke NKRI dan berhenti melakukan teror.

Tayang:
Editor: Frandi Piring
Kolase Foto Istimewa
Kepala Densus 88 Irjen Martinus Hukom Punya Strategi Rangkul KKB Balik ke NKRI. 

Tapi saya menginginkan orang-orang yang ditangkap ini, kemudian kita dekati dengan segala pendekatan psikologi, pendekatan budaya, pendekatan sosial, pendekatan kesejahteraan," jelasnya.

Kontak Senjata <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/kkb' title='KKB'>KKB</a> Egianus Kogoya dan TNI di Nduga, <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/papua' title='Papua'>Papua</a> pada Selasa 6 Juli 2021.

Pendekatan itu, kata dia, nantinya diharapkan para KKB Papua yang semula bertentangan dengan aparat berubah sikap untuk berjalan seiringan untuk membangun Indonesia.

"Kemudian dia menjadi ada namanya stokeholm syndrom. Dia jatuh cinta kepada orang yang menangkap dia atau menawan dia atau menculik dia.

Itu metode ini yang kita sering tidak gunakan dalam penanganan pelaku-pelaku teror sekarang," tukasnya.

Diketahui, Irjen Pol Marthinus Hukom meminta penyebutan teroris untuk kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua dihentikan.

Irjen Pol Marthinus Hukom beralasan, penyebutan teroris untuk KKB Papua itu akan menjadikan stigma buruh bagi orang asli Papua (OAP).

"Jika KKB Papua memenuhi unsur terorisme, maka penggunaan kata terorisme diikuti dengan kata Papua itu harus dihindari," kata Marthinus dalam diskusi daring, dikutip dari tribunnews, Senin (27/9/2021).

Kenapa demikian?

Marhinus tidak mau kata terorisme itu distigmakan kepada identitas yang dibawa secara lahiriah seorang manusia.

Menurut Marthinus, stigma tersebut telah berdampak terhadap seluruh OAP yang memiliki identitas lahiriah yang sama sebagai keturunan Papua.

"Secara lahiriah akan berdampak stigmatisasi terhadap seluruh orang yang memiliki identitas lahiriah yang sama. Kita tidak boleh menterorismekan seluruh orang yang mempunyai identitas Ke-Papua-an," jelasnya.

Lebih lanjut, kata Martinus, stigma tersebut juga berdampak kepada psikososial terhadap seluruh orang Papua di Indonesia bahkan seluruh dunia.

"Ketika orang bertemu dengan orang Papua lalu iseng-iseng mengatakan 'teroris kamu'.

Wah ini fatal, fatal secara itu membuat Papua semakin menjadi carut marut, teraduk-aduk karena emosi orang papua karena bangkit karena diskriminasi atau rasisme tadi," ungkapnya.

Sumber: Surya
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved