Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Internasional

Misteri Pandemi 1916, Penyakit Tidur yang Bikin Banyak Orang Meninggal dalam Lelap, Gejalanya Aneh

Disertai gejala yang aneh, lesuh hingga terbaring lemah, kejang-kejang, koma hingga berakhir dengan kematian. Misteri Pandemi 1916 Penyakit Tidur.

Editor: Frandi Piring
NCBI/Twitter
Misteri Pandemi 1916, Penyakit Tidur yang Bikin Banyak Orang Meninggal dalam Lelap, Begini Gejalanya. 

Ada juga peneliti yang meyakini bentrokan kedua wabah itu hanya kebetulan belaka.

Sementara penelitian lebih lanjut mengatakan kemungkinan ada pemicu lain yang memperburuk dampak penyakit tidur, yang sebenarnya mungkin bisa dengan mudah disembuhkan sebelumnya.

Ancaman penyakit tidur

Pada 17 April 1917, Dr Constantin von Economo membagikan ilmunya tentang penyakit baru yang dinamakan Encephalitis Lethargica.

Dia membagikan informasi ini pada pertemuan Society for Psychiatry and Neurology. Segera setelah mendiskusikan penyakit ini dengan orang lain, dan menerbitkan artikel pertama tentang penyakit tidur, Encephalitis Lethargica.

Dalam artikel tersebut, ilmuwan itu menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami penderita penyakit tidur.

Pasien dilaporkan mengalami waktu tidur yang sangat lama, seolah masuk dalam keadaan koma karena penyakit ini.

Beberapa gejala pertama yang dinyatakan oleh dokter pada saat itu adalah sakit kepala dan tidak enak badan.

Ketika kondisi meningkat menjadi lebih parah, pasien mulai memiliki gejala mengantuk atau lesu.

Tidur dalam keadaan itu dapat mengakibatkan kematian bagi banyak pasien.

Dan jika bukan kematian, pasien akan tidur dalam waktu panjang sehingga bisa lama pulih atau mungkin menjadi koma.

Beberapa gejala lain yang paling menonjol termasuk kelumpuhan pada saraf kranial (saraf tengkorak), terutama mata.

Dr Constantin von Economo pun menyimpulkan bahwa penyakit tidur merupakan ancaman tingkat tinggi bagi umat manusia.

Dua dekade penyakit tidur di dunia 

Setelah temuan itu, penyakit tidur justru semakin meningkat. Kasus mencapai puncaknya antara 1920 dan 1924, dengan angka resmi saat itu mencatat puncak 10.000 kasus.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved