Internasional
Misteri Pandemi 1916, Penyakit Tidur yang Bikin Banyak Orang Meninggal dalam Lelap, Gejalanya Aneh
Disertai gejala yang aneh, lesuh hingga terbaring lemah, kejang-kejang, koma hingga berakhir dengan kematian. Misteri Pandemi 1916 Penyakit Tidur.
Ada juga peneliti yang meyakini bentrokan kedua wabah itu hanya kebetulan belaka.
Sementara penelitian lebih lanjut mengatakan kemungkinan ada pemicu lain yang memperburuk dampak penyakit tidur, yang sebenarnya mungkin bisa dengan mudah disembuhkan sebelumnya.
Pada 17 April 1917, Dr Constantin von Economo membagikan ilmunya tentang penyakit baru yang dinamakan Encephalitis Lethargica.
Dia membagikan informasi ini pada pertemuan Society for Psychiatry and Neurology. Segera setelah mendiskusikan penyakit ini dengan orang lain, dan menerbitkan artikel pertama tentang penyakit tidur, Encephalitis Lethargica.
Dalam artikel tersebut, ilmuwan itu menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami penderita penyakit tidur.
Pasien dilaporkan mengalami waktu tidur yang sangat lama, seolah masuk dalam keadaan koma karena penyakit ini.
Beberapa gejala pertama yang dinyatakan oleh dokter pada saat itu adalah sakit kepala dan tidak enak badan.
Ketika kondisi meningkat menjadi lebih parah, pasien mulai memiliki gejala mengantuk atau lesu.
Tidur dalam keadaan itu dapat mengakibatkan kematian bagi banyak pasien.
Dan jika bukan kematian, pasien akan tidur dalam waktu panjang sehingga bisa lama pulih atau mungkin menjadi koma.
Beberapa gejala lain yang paling menonjol termasuk kelumpuhan pada saraf kranial (saraf tengkorak), terutama mata.
Dr Constantin von Economo pun menyimpulkan bahwa penyakit tidur merupakan ancaman tingkat tinggi bagi umat manusia.
Dua dekade penyakit tidur di dunia
Setelah temuan itu, penyakit tidur justru semakin meningkat. Kasus mencapai puncaknya antara 1920 dan 1924, dengan angka resmi saat itu mencatat puncak 10.000 kasus.