Breaking News:

Sosok Tokoh

SOSOK Pendeta Paul Yonggi Cho, Simbol Pertumbuhan Kristen Pasca-perang Korea, Dahulu Penganut Buddha

David Yungi Cho, yang pendirian gereja terbesar Korea Selatan pernah berdiri sebagai simbol pertumbuhan Kristen pasca-perang di negara

Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
(Photo by Robert Pearce/Fairfax Media via Getty Images).
SOSOK Pendeta Paul Yonggi Cho, Simbol Pertumbuhan Kristen Pasca-perang Korea, Dahulu Penganut Buddha 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabar duka datang bagi umat kristiani dunia.

Pendeta Cho Yong-gi atau David Yungi Cho, yang pendirian gereja terbesar Korea Selatan pernah berdiri sebagai simbol pertumbuhan Kristen pasca-perang di negara itu sebelum pencapaian itu dinodai oleh korupsi dan skandal, meninggal Selasa.

Pendeta Paul Yonggi Cho meninggal pada usia 85 tahun.

Cho, seorang pendeta emeritus di Yoido Full Gospel Church Seoul, meninggal di sebuah rumah sakit Seoul.

Dia dirawat sejak dia pingsan karena pendarahan otak pada Juli 2020, kata gereja itu dalam sebuah pernyataan.

Pendeta Paul Yonggi Cho Meninggal Dunia, Setia Perkara Kecil hingga Miliki Jemaat Terbesar di Dunia

In this Oct. 11, 2013, photo, Rev. <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/cho-yong-gi' title='Cho Yong-gi'>Cho Yong-gi</a> attends Grand Prayer Rally for Peace of the <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/korea' title='Korea'>Korea</a>n Peninsula and for the Hope of the World Church at the World Cup Stadium in Seoul, South <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/korea' title='Korea'>Korea</a>. Rev. Cho, whose founding of the biggest South <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/korea' title='Korea'>Korea</a>n church once stood as a symbol of the post-war growth of Christianity in the country before that achievement was tainted by corruption and scandals, died Tuesday, Sept. 14, 2021. He was 85. (Hong Chan-sun/Newsis via AP)

“Dia menyampaikan Injil harapan kepada orang-orang Korea yang putus asa setelah Perang Korea,” kata pernyataan gereja.

“Dia berperan penting dalam menumbuhkan gereja Korea, khususnya mengembangkan Yoido Full Gospel Church sebagai gereja terbesar di dunia.”

Cho memulai gerejanya di Seoul dengan lima jemaah pada tahun 1958, ketika Korea Selatan masih berjuang untuk membangun kembali dirinya dari abu Perang Korea 1950-53.

Di bawah kepemimpinannya, gereja mencapai pertumbuhan eksplosif dan menjadi simbol pertumbuhan pesat Kekristenan di negara yang saat itu merupakan negara Konfusianisme.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved