Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Internasional

Satoru Nomura, Bos Yakuza yang Divonis Hukuman Mati seusai 88 Orang Berani Bersaksi, Paling Ditakuti

Bos Yakuza, Satoru Nomura divonis hukuman mati seusai 88 orang berani bersaksi. Padahal paling ditakuti.

Editor: Frandi Piring
Daily Mail
Satoru Nomura, Bos Yakuza yang Divonis Hukuman Mati seusai 88 Orang Berani Bersaksi. 

Polisi prefektur secara menyeluruh menjaga diri mereka sendiri, berpusat di ruang tindakan perlindungan dengan sekitar 100 orang polisi dikerahkan sekitar pengadilan tersebut.

Sebanyak 88 saksi dihadirkan di persidangan hanya dari pihak kejaksaan.

Anak sulung dari almarhum mantan ketua serikat nelayan yang ditembak mati itu bersaksi di pengadilan bahwa dia sering dimintai konsesi oleh Taue dan yang lainnya.

"Jadi saya putuskan saya akan bicara akhirnya," paparnya.

Mantan anggota juga bersaksi secara rinci tentang bagian dalam organisasi, dengan mengatakan, "Saya takut karena itu adalah kesaksian kepada orang-orang top. Saya pikir mungkin akan ada sesuatu di keluarga saya (sendiri) nantinya.

Meskipun demikian saya juga kasihan memikirkan para korban yang jumlahnya cukup banyak yang meninggal."

Penghancuran Kudokai memang sempat membuat polisi hampir frustrasi setelah keduanya sempat dibebaskan tahun 2013.

Tanggal 15 November 2013, Pengadilan Distrik Fukuoka Cabang Kokura smepat membebaskan dua pimpinan Kudokai.

Ketika dua eksekutif Kudo-kai yang didakwa dengan percobaan pembunuhan karena menembak presiden sebuah perusahaan konstruksi dibebaskan, semua penonton berteriak.

Para penyelidik meninggalkan ruang sidang, melihat ke bawah merasa kalah dan kesal karena pengadilan membebaskan mereka.

Namun akibat insiden tersbeut, polisi prefektur akhirnya berhasil membuat kasus lebih siap dan lebih matang lagi.

Di lain pihak Kudokai semakin merajalela saat itu. Seringnya serangan terhadap warga pada sekitar 10 tahun lalu.

Penyelidikan seharusnya sudah habis dengan menyita kotak selongsong peluru dari kantong sampah rumah eksekutif kelompok Kudokai.

Namun, korban yang dijadwalkan hadir sebagai saksi di pihak kejaksaan, batal beberapa saat sebelumnya. Hakim ketua memutuskan bahwa "kecurigaan yang masuk akal tetap ada." Namun belum bisa menghukumnya saat itu karena bukti-bukti keterkaitan pembunuhan masih lemah.

Seorang penyelidik menulis di buku catatannya bahwa dia "frustrasi". Surat-surat berdarah dengan air mata. Setelah dibebaskan kedua pimpinan Kudokai, warga sipil kota Kitakyushu terus diserang, termasuk seorang dokter gigi pria yang ditikam dan juga perawat yang ditusuk di pinggir jalan.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved