Afghanistan
Cegah Imigran Ilegal dari Afghanistan, Yunani Bangun Pagar Batas dengan Pengawasan Ketat
Peristiwa di Afghanistan telah memicu kekhawatiran di Uni Eropa akan terulangnya krisis pengungsi yang pernah terjadi pada tahun 2015 silam.
Menteri Perlindungan Warga Michalis Chrisochoidis mengatakan perpanjangan pagar sepanjang 12,5 kilometer yang ada telah selesai dalam beberapa hari terakhir.
Begitu juga dengan sistem pemantauan elektronik otomatis berteknologi tinggi.
"Kami tidak bisa menunggu secara pasif untuk dampak yang mungkin terjadi (gelombang migran Afghanistan)" kata Michalis Chrisochoidis dikutip Tribun Style dari BBC, Minggu, 22 Agustus 2021.
"Perbatasan kami akan tetap aman dan tidak dapat diganggu gugat," sambungnya.
Pagar yang didirikan di wilayah Evros di perbatasan Yunani dengan Turki. (Kompas.com)
Chrisochoidis mengatakan krisis tersebut menciptakan kemungkinan arus migrasi baru masuk ke Eropa.
Yunani yang pernah mangalami krisis migrasi 2015, mengatakan bahwa pemerintahannya akan memulangkan setiap warga Afghanistan yang tiba secara ilegal melalui negaranya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Nikos Panagiotopoulos mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengawasi upaya untuk meningkatkan keamanan di perbatasan negaranya.
"Yunani terus melindungi diri dari segala kemungkinan atau ancaman keamanan yang ada," ujarnya.
Dilansir dari BBC, Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis dan Presiden Turki Tayyip Erdogan telah membahas masalah Afghanistan melalui sambungan telepon pada Jumat lalu.
Erdogan mengatakan Afghanistan dan Iran yang merupakan rute utama bagi orang Afghanistan ke Turki harus didukung.
Sebab jika tidak, maka gelombang migrasi baru tidak akan bisa terhindarkan.
Hal itu menurut Erdogan dapat menimbulkan tantangan serius bagi semua orang.
"Gelombang migrasi tidak dapat dihindari jika tindakan yang dibutuhkan tidak diambil di Afghanistan dan di Iran," ujar Erdogan.