Nasional
'Kalau Saya, PPKM Itu Sama dengan Pak Kapan Kita Mati', Setiap Hari Dua Orang Meninggal
"Kalau saya, PPKM itu sama dengan Pak Kapan Kita Mati," ujar Bete (42), seorang warga Pademangan Barat di Jakarta Utara.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Diterapkannya PPKM Darurat berarti memindahkan lokasi bekerja sebagian warga ibukota yang tadinya di kantor menjadi di rumah.
Soal gaji, tetap diterima mungkin dengan beberapa potongan tunjangan operasional.
Namun bagi warga miskin di Jakarta, PPKM darurat bisa berarti penderitaan.

Musababnya, mereka diintai kelaparan, penyakit, dan kemiskinan yang kian menjadi-jadi.
"Kalau saya, PPKM itu sama dengan Pak Kapan Kita Mati," ujar Bete (42), seorang warga Pademangan Barat di Jakarta Utara kepada Kompas.id, Senin (12/7/2021).
Pria yang biasanya berdagang aneka mainan anak di taman wisata pantai di Jakarta Utara itu kini tak lagi berjualan sejak tempat hiburan itu kembali ditutup akhir Juni 2021.
Ketika itu kasus Covid-19 melonjak drastis di Ibu Kota.
Sejak tak lagi berdagang, ayah satu anak itu kelabakan memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena tak lagi mampu membayar sewa kontrakan, Bete akhirnya tinggal di rumah mertua yang juga di Pademangan Barat.
Dia bersama istrinya kini bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Mereka berharap tetap sehat dan tak terinfeksi Covid-19. Namun, mereka juga tak bisa hanya berdiam di rumah.
Bete termasuk penerima bantuan sosial tunai sebesar Rp 300.000 per bulan dari Kementerian Sosial.
Bantuan terakhir yang diterima sebesar Rp 600.000 sudah diterima pada Mei 2021 untuk tahap April dan Mei.
Sementara, bantuan sosial untuk Juni dan Juli 2021 sampai saat ini belum mereka dapatkan.
”Kami bukannya tidak bersyukur.