Nasional
'Kalau Saya, PPKM Itu Sama dengan Pak Kapan Kita Mati', Setiap Hari Dua Orang Meninggal
"Kalau saya, PPKM itu sama dengan Pak Kapan Kita Mati," ujar Bete (42), seorang warga Pademangan Barat di Jakarta Utara.
Masa PPKM ini, kadang-kadang kita sakit hati. Dibilang masyarakat tenang.
Bagaimana kita tenang, yang benar-benar tidak ada penghasilan.
Pemerintah menganggap sebulan bantuan Rp 300.000 itu cukup,” ujarnya.
Hidup dalam ketidakberdayaan, dibayang-bayangi kematian
Menurut Koordinator Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Eny Rochayati, masyarakat yang tinggal di kampung-kampung Jakarta, salah satunya di Jakarta Utara, kini hidup dalam ketidakberdayaan.
Warga bertahan tanpa nafkah hingga ada yang meninggal sesak napas tanpa teridentifikasi secara medis penyebab kematian tersebut.
”Kejadian kematiannya tinggi sekali. Setiap hari, ada kematian, paling tidak itu dua orang.
Gejalanya sama, sesak napas,” kata Eny.

Mereka yang meninggal itu, ada yang hanya bertahan di rumah hingga mengembuskan napas terakhir.
Sebagian warga meninggal setelah ditolak rumah sakit karena kapasitas ruang perawatan penuh.
Banyak warga yang sakit akhirnya memutuskan untuk bertahan di rumah tanpa menjalani tes usap.
Sayangnya, sebagian dari mereka lalu tak tertolong dan meninggal.
Saat sudah meninggal, keluarga memakamkan jenazah warga yang bersangkutan tanpa protokol Covid-19.
Situasi ini menjadi ancaman tersendiri karena berpotensi memperluas penyebaran Covid-19 kepada orang-orang terdekat yang mengurus jenazah tersebut dan di lingkungan permukiman warga.
Jaringan Rakyat Miskin Kota berharap kepada pemerintah untuk tak sekadar mengutamakan sosialisasi dan penegakan hukum PPKM darurat.