Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Reklamasi Eks Tambang PT NMR

Kebun Raya Hadapi Ancaman Tambang Rakyat, Nyawa Tak Lagi Nomor Satu Demi Sesuap Nasi

Aktivitas tambang rakyat di Ratatotok ini telah bertahun-tahun lamanya digeluti masyarakat. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda

Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Finneke Wolajan
Penambang rakyat di Bukit Messel Ratatotok tepatnya di Lubang Nibong. Penambang mengklaim kawasan ini berada di luar Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 

Menurut catatan Asosiasi Penambang Rakyat (APRI) Minahasa Tenggara, kurang lebih ada 40 ribuan penambang rakyat di Ratatotok, baik di dalam kawasan kebun raya, maupun di luar. Ketua APRI Mitra Valdy Suak mengatakan pada akhir tahun 2020 lalu saat tambang Ratatotok diserbu warga, kurang lebih ada sekitar 15 ribu masyarakat setiap hari yang menambang. Sementara untuk jumlah lubang, tak ada catatan pasti. Valdy Suak hanya mengira-ngira di angka ribuan.

Penambang yang datang akhir 2020 itu tak hanya masyarakat lingkar tambang, di area Ratatotok hingga Buyat, namun sudah datang dari seluruh penjuru Sulawesi Utara, bahkan hingga luar daerah. “Bahkan ada yang dari Surabaya dan Makassar waktu itu,” kata Valdy Suak yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Lingkat Tambang Ratatotok ini.


Penambang rakyat keluar masuk Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Sejak dulu, masyarakat di kawasan lingkar tambang memang sudah menggantungkan hidup mereka dari hasil tambang rakyat atau tradisional. Jumlah penambang rakyat saat ini jauh lebih banyak, setelah PT NMR angkat kaki dari Ratatotok.

Saat PT NMR masih beroperasi, akses masyarakat untuk menambang sangat terbatas karena masuk di area perusahaan. Warga di area lingkar tambang menikmati fasilitas dari perusahaan, seperti pembangunan jalan dan program bantuan lainnya. “Tapi ekonomi warga tak sebagus sekarang setelah bisa menambang. Dulu banyak masyarakat yang tak bisa menikmati kekayaan di tanah sendiri,” katanya.

Menurut catatan APRI Mitra, ada tujuh titik kawasan yang mengandung banyak emas di Ratatotok, dia antaranya kawasan Nibong, Rotan, Ogus, Lobongan, Limpoga, Pasolo, Alason. Sebagian besar kawasan tersebut masuk area PT Newmont Minahasa Raya, sehingga tak bisa dijangkau penambang rakyat.

“Dulu juga masyarakat masih pakai merkuri, jadi emasnya tak keluar. Waktu itu belum tahu apa itu sianida. Nanti setelah tahu pemakaian sianida ini, barulah terjadi penambangan besar-besaran. Seperti yang terjadi di area Nibong sekarang ini,” kata Valdy.

Nyawa Tak Lagi Nomor Satu Demi Sesuap Nasi

Seorang pria jongkok sambil memegang alat penyembur api yang menyala dan menghadapkannya di sebuah tungku kecil. Di samping dan belakang pria ini, ada empat pria yang tampak menunggu. Satu jam beralalu, apa yang mereka tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Emas. Ukurannya kecil, hanya sebesar koin logam Rp 500. Seketika emas itu ditimbang pakai timbangan digital. emas ini seberat 47,99 gram. Wajah sekelompok pria ini tampak lega.


Penambang rakyat di Ratatotok, asal Desa Buyat, membakar hasil olahan material tambang yang kemudian menjadi emas. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Rupanya hasil olahan emas itu sesuai dengan yang mereka diharapkan. Tak kurang, hanya lebih sedikit. Dikalikan Rp 770 ribu per gram, hasilnya Rp 36.952.300. Setiap kali mengolah material emas yang mereka tambang, selalu ada rasa harap-harap cemas. Karena hasil olahan tak bisa dipastikan. Bisa banyak, tapi juga bisa sangat sedikit, tergantung rezeki.

Baru saja 47,99 gram itu selesai diolah, beberapa orang lainnya sudah mulai material berikutnya untuk diolah. Rumah warga bernama Atid Paputungan, di Desa Buyat, Kecatamatan Kotabunan, Bolaang Mongondow Timur ini tak pernah sepi beberapa bulan belakangan ini. Rumahnya menjadi tempat pengolahan material emas hasil tambang masyarakat. Meski sudah beda kabupaten, Buyat berada di kawasan lingkar tambang Ratatotok.

Selain bak perendaman dan alat-alat untuk mengolah material emas, rumah Atid juga dipenuhi material, hasil tambang ia dan 30 orang yang ia pekerjakan. Atid adalah seorang pemilik lubang tambang yang menghasilkan emas lumayan banyak. Lubangnya berlokasi di Nibong, Ratatotok.

Lokasi yang belakangan banyak diserbu penambang rakyat. Atid menegaskan, meski tak berizin, lubang tambang miliknya berada di luar kawasan Kebun Raya Megawati. Atid Paputungan tergolong pendatang baru di dunia pertambangan rakyat, baru sekitar tiga hingga empat bulan dirinya memberanikan diri untuk terjun di bisnis tambang rakyat.

Tak mudah jalan yang Atid lewati untuk bisa mendapat untung menambang. Ia berkali-kali rugi karena lubang yang tak ada hasil. Padahal biaya operasional untuk menambang ini tak sedikit. Modal yang dibutuhkan menyentuh angka ratusan rupiah. Namun Atid sadar betul, ketika ia berani melepas modal tersebut, ia sudah harus siap dengan segala konsekuensinya. Bak di meja judi, lenyap, atau uang itu kembali berlipat-lipat.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved