Reklamasi Eks Tambang PT NMR
Kebun Raya Hadapi Ancaman Tambang Rakyat, Nyawa Tak Lagi Nomor Satu Demi Sesuap Nasi
Aktivitas tambang rakyat di Ratatotok ini telah bertahun-tahun lamanya digeluti masyarakat. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda
Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
Ada ibu-ibu yang tampang menyiapkan makanan dan minuman. Ada yang sedang membangun tenda dan sementara menggali lubang yang baru saja dibuka. Banyak lubang yang tampak sudah dibiarkan begitu saja karena tak ada hasilnya.
Tak sisi lainnya, berjejer mobil jeep yang siap mengangkut material emas yang digali para penambang. Mobil jeep bolak-balik di medan yang sulit, mengangkut berkarung-karung material emas. Kawasan ini menurut pengakuan warga di situ berada di luar Kebun Raya Megawati. “Ini di luar kebun raya, sudah ada batas-batasnya. Kalau kebun raya kami tak berani,” kata salah seorang penambang.
Penambang rakyat di Bukit Messel Ratatotok tepatnya di Lubang Nibong. Penambang mengklaim kawasan ini berada di luar Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)
Di sebuah tenda, tiga orang pemuda tampak bersiap-siap masuk ke lubang. Mereka memakai lampu senter di kepala, yang merupakan barang wajib. Lubang itu hanya seukuran badan satu orang. Sejauh mata memandang di kedalaman lubang, terpasang papan penyangga di tiap sisipnya.
Menyusuri lebih dalam lagi kawasan Kebun Raya Megawati, tepatnya di area kolam yang dulunya bekas penggalian PT NMR. Di pinggir-pinggir kolam yang masuk di area kebun raya ini banyak penambang rakyat. Tenda beragam warna berjejeran. Mereka mengitari sisi-sisi kolam, dari bawah hingga bukit curam. Akses untuk ke tambang rakyat ini ada yang dari puncak lalu turun ke bawah, ada pula akses yang dari tepi kolam lalu menanjak ke bukit.
Jalur yang ditempuh curam dan berbahaya. Namun penambang rakyat yang ditemui, tampak sudah terbiasa dengan jalur tersebut. Sambil membawa barang-barang, mereka tampak lihai menapaki setiap jalur. Dari yang muda hingga penambang yang sudah beruban.
Penambang rakyat di dalam Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Tepatnya di samping kolam buatan (Tribun Manado/Finneke Wolajan)
Tak usah jauh-jauh ke dalam kebun raya untuk ramainya aktivitas penambang emas di Ratatotok. Hal ini sudah bisa dilihat saat mulai memasuki Ratatotok. Di jalanan, terlihat lalu lalang warga mengangkut material emas di mobil dan motor. Pekarangan rmah warga penuh dengan material emas di dalam karung.
Hal ini makin kelihatan ketika menuju Kebun Raya Megawati. Di sepanjang jalan, di sisi kiri dan kanan jalan terhampar mesin-mesin tromol yang tak henti menggiling material emas. Begitu pula dengan jejeran karung berisi material emas.
Tambang Rakyat Sejak Zaman Penjajahan Belanda
Aktivitas tambang rakyat di Ratatotok ini telah bertahun-tahun lamanya digeluti masyarakat. Mereka menggantungkan perekonomian mereka dari hasil tambang di Bukit Mesel ini. Disebutkan, kegiatan menambang di Ratatotok ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Jejak sejarah eksplorasi penambangan emas telah ada sejak 1900an. Setidaknya kolonial Belanda pernah memasang 60 mesin penumbuk emas di wilayah ini. Sebuah catatan menginformasikan, Belanda kala itu sempat mengangkut setidaknya 5.000 kilogram emas dari perut bumi Ratatotok.
Penambang rakyat di Bukit Messel Ratatotok tepatnya di Lubang Nibong. Penambang mengklaim kawasan ini berada di luar Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)
Tak sampai di situ, bertahun-tahun setelah itu, mesin-mesin modern datang mengeksploitasi kekayaan mineral perut bumi Ratatotok. Limbahnya dibuang ke teluk Buyat, lalu terjadi fenomena penyakit minamata pada masyarakat tahun 2004. Hal ini pula mendorong gugatan warga yang akhirnya memaksa perusahaan penambangan emas multinasional yakni PT Newmont Minahasa Raya angkat kaki dari sana.
Kerap kali terjadi kasus kecelakaan tambang di dalam kawasan Kebun Raya Megawati yang menewaskan warga. Dalam catatan pemberitaan, dalam setahun terakhir sudah ada sekitar belasan hingga puluhan warga penambang yang tewas di dalam Kebun Raya Megawati. Petugas dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara, TNI dan Polri juga sudah beberapa kali melakukan penertiban, namun aktivitas tambang rakyat di kawasan kebun raya tak juga berhenti.