Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Sitaro

Cuaca di Sitaro Kian Membaik, Aktivitas Nelayan Kembali Normal

Berdasarkan data yang diperoleh dari BMKG tertanggal 22 April 2021, wilayah Sitaro sudah tidak termasuk dalam daftar peringatan dini gelombang tinggi.

Tayang:
Penulis: Octavian Hermanses | Editor: Rizali Posumah
Istimewa.
Sejumlah perahu nelayan yang terikat akibat terjangan cuaca buruk beberapa waktu lalu, kini mulai dipakai untuk melaut. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Selang dua hari terakhir ini, kondisi cuaca di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) mulai membaik.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatoligi dan Geofisika (BMKG) tertanggal 22 April 2021, wilayah Sitaro sudah tidak termasuk dalam daftar peringatan dini gelombang tinggi.

Sedangkan Laut Sulawesi Bagian Barat dan Perairan Kepulauan Talaud yang sebelumnya memiliki peluang tinggi gelombang antara 2,5 meter hingga 4 meter sejak beberapa hari lalu, kini sudah berada pada peluang tinggi gelombang 1,25 meter sampai 2,5 meter.

Dalam narasinya disebutkan, Typhoon Surigae (940 hPa) pada koordinat 17.2 LU 125.3 BT. Kecepatan angin maksimum 90 knot bergerak kearah Barat Laut.

Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari Barat Daya - Barat dengan kecepatan 7-19 knot.

Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari Tenggara - Barat Daya dengan kecepatan 6-24 knot.

Kondisi ini pun berdampak positif pada berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Salah satunya aktivitas para nelayanan tradisional di Kabupaten Sitaro, yang kini bisa kembali melaut seperti biasanya.

"Sejak kemarin, saya dan beberapa rekan lain sesama nelayan sudah bisa melaut seperti biasanya," kata Hesky, salah satu nelayan di Siau.

Ia pun mengaku senang karena bisa kembali mencari ikan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebab menurutnya, selama cuaca buruk melanda Sitaro, ia harus memutar otak untuk mencari pekerjaan atau kegiatan lain sebagai mata pencarian.

"Bersyukur sudah bisa melaut dan menjual hasil tangkapan kepada para pembeli," singkatnya.

Hal lain yang turut berdampak dari membaiknya kondisi cuaca serta normalnya aktivitas nelayan, yakni harga jual ikan di pasar-pasar tradisional.

Jika pada saat cuaca ekstrem yang menyebabkan banyak nelayan berhenti melaut, harga ikan jenis Selar dijual dengan harga Rp20.000 per tiga ekor.

Kini, harganya perlahan menurun, yakni Rp20.000 per lima hingga enam ekor.

Sedangkan ikan cakalang berukuran sedang, yang sebelummya dijual dengan harga Rp50.000 per ekornya, kini turun menjadi Rp35.000 per ekornya.

Selain berdampak baik bagi nelayan, aktivitas pelayaran pun kembali normal setelah beberapa waktu lalu terjadi penundaan jadwal keberangkatan kapal akibat cuaca ekstrem.

"Penundaan jadwal pelayaran hanya satu hari, itu pun untuk rute Siau-Tahun. Tapi sekarang semuanya sudah kembali normal," kata Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ulu Siau, Welhelmus Dami. (HER)

Wabup Talaud Temui Direktur Utama Lion Air Bahas Jadwal Penerbangan Manado-Talaud 

Cara Membuar Kue Nastar Sendiri dengan Mudah Tanpa Pakai Mixer, Ikuti Langkah Ini

Nama-nama 53 Orang di KRI Nanggala yang Hilang Kontak, 49 ABK, 1 Komandan Satuan, 3 Personel Arsenal

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved