Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hari Kartini

Hari Kartini, Guru SD di Bitung Pakai Kebaya di Sekolah, Hingga Bagi Paket Sembako

Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, sejumlah perempuan di Kota Bitung melakukan berbagai hal unik

Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Christian Wayongkere
TP PKK serta DWP Kota Bitung bagi paket sembako kepada penyapu jalan dalam rangka hari Kartini. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Panas Terik menyengat di kulit, Rabu (21/4/2021). Hari ini bertepatan dengan Hari Kartini, seorang pahlawan perempuan yang dimiliki Negara Indonesia.

Pemilik nama lengkap Raden Ajeng Kartini (RA Kartini), disematkan sebagai pahlawan Nasional karena memperjuangkan kesetaraan hak perempuan atau emansipasi wanita.

Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, sejumlah perempuan di Kota Bitung melakukan berbagai hal unik.

Seperti yang ditunjukkan para guru dan kepala sekolah di SD GMIM 23 Kelurahan Girian Atas Kecamatan Girian Kota Bitung, menggunakan pakaian adat Kebaya.

Baca juga: Olly Dondokambey Boyong Proyek Nasional Masuk Sulut di 2022, Ada Fish Market dan Peternakan Sapi

Baca juga: Peringatan Dini BMKG: Waspada Wilayah Berikut Berpotensi Alami Cuaca Ekstrem Kamis, 22 April 2021

Baca juga: Prakiraan Cuaca Besok Kamis 22 April 2021, BMKG: 20 Wilayah Dilanda Hujan dan Angin Kencang

Meski cuaca panas, tidak menyurutkan langkah para perempuan hebat ini untuk pergi menunaikan tugas mereka sebagai guru di sekolah.

Disaat bersamaan tengah berlangsung ujian sekolah untuk siswa kelas 6.

Pakaian Kebaya warna putih, merah dipadukan dengan rok panjang warna hitam, merah dan bercorak batik kota Bitung nampak anggun di pakai para guru dan kepala sekolah.

Baca juga: Ketum PSSI Sebut Liga 1 Bisa Bergulir 3 Juli 2021, Perencanaan Sudah Disiapkan

Baca juga: Pemerintah Kota Kotamobagu Gelar Rapat Persiapan Apel Kesiapsiagaan Antisipasi Cuaca Ekstrem

Baca juga: Apel Kesiapsiagaan Hadapi Bencana, Caroll Senduk: Akan Ada Penyiapan Fasilitas Layanan Kesehatan

Guru dan Kepala sekolah ini,  tak lupa menerapkan protokol kesehatan mulai dari mencuci tangan di air mengalir pakai sabuh, pakai masker dan mengukur suhu tubuh di tempat yang sudah disiapkan.

Bahkan saat mengawas anak-anak di ruang kelas, mereka nampak cantik dan berwibawah dengan sematan pakaian adat Nasional.

Menurut Novrieta Ruth Tampi kepala SD GMIM 23 Girian Atas, ide dan gagasan memakai pakaian Kebaya muncul dari para guru-guru.

Guru dan kepala sekolah di SD GMIM 23 Girian Atas mengawas ujian sekolah pakai kebaya
Guru dan kepala sekolah di SD GMIM 23 Girian Atas mengawas ujian sekolah pakai kebaya (Tribun manado / Christian Wayongkere)

"Iya, jadi kemarin dicakapkan dan disepakati hari ini pakaian kami pakaian adat. Dan memilih pakai kebaya seperti ini, di momentum hari Kartini," kata Novrieta Ruth Tampi kepada Tribunmanado.co.id, Rabu (21/4/2021).

Di balik penggunaan pakaian kebaya, Novrieta Ruth Tampi melihat makna yang terkandung di momentum hari Kartini yakni perempuan harus mandiri dan tetap berjuang, menjadi pengingat untuk terus semangat.

Menghargai jasa dan upaya yang telah diperjuangkan oleh RA Kartini terhadap semua perempuan Indonesia dan yang terpinteng menjadi perempuan yang mengispirasi.

Baca juga: Pengawasan PPKM di Sitaro Diserahkan ke Satgas Covid-19 Kelurahan dan Kampung

Baca juga: Ketum PSSI Sebut Liga 1 Bisa Bergulir 3 Juli 2021, Perencanaan Sudah Disiapkan

Baca juga: Apel Kesiapsiagaan Hadapi Bencana, Caroll Senduk: Akan Ada Penyiapan Fasilitas Layanan Kesehatan

"Tidak perlu pintar, karena masih ada yang lebih pintar. Artinya pintar itu bukan prioritas melainkan berkarakter dan berintegritas," ujarnya.

SD GMIM 23 Girian Atas melaksanakan ujian sekolah, ada 63 peserta yang terdaftar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved