Breaking News:

TRILOGI PEMBANGUNAN JEMAAT

BACAAN ALKITAB: 1 Petrus 1:3-12 “Buktikan Kemurnian Imanmu”

Hidup orang Kristen tidak pernah luput dari tantangan dan ujian sebagai sarana pemurnian. Tokoh-tokoh Alkitab dan persekutuan

Editor: Aswin_Lumintang
Kolase Tribun Manado/Foto: Istimewa
Kisah Petrus, Nelayan yang Jadi Penjala Manusia, Imannya Diuji Saat Menyangkal Yesus 3 Kali 

MTPJ 18 – 24 April 2021
TEMA MINGGUAN : “Ketaatan Melaksanakan Kehendak Allah adalah Wujud Kedewasaan Iman”
TEMA BULANAN : “Buktikan Kemurnian Imanmu”
BACAAN ALKITAB: 1 Petrus 1:3-12
ALASAN PEMILIHAN TEMA

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hidup orang Kristen tidak pernah luput dari tantangan dan ujian sebagai sarana pemurnian. Tokoh-tokoh Alkitab dan persekutuan orang percaya dari masa ke masa sering berhadapan dengan hal tersebut. Itulah sebabnya gereja terus terpanggil untuk membuktikan kemurnian iman di tengah perubahan zaman dengan berbagai realita yang dihadapi. Penderitaan, kesukaran dan penganiayaan karena iman kepada Kristus bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja.

Simon Petrus
Simon Petrus (Youtube JC Channel)

Semuanya itu dialami agar supaya iman orang percaya memiliki nilai dan kualitas sehingga tidak mudah terbawa oleh arus zaman yang menyesatkan. Eksistensi gereja di tengah dunia tidak terlepas dari panggilannya untuk bersaksi tentang karya selamat Allah didalam Yesus Kristus dengan penuh ketaatan sekalipun diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang sulit.

Kemurnian iman akan teruji ketika melewati suatu proses yang sangat sulit lalu akhirnya mengalami kemenangan untuk menuju pada tingkat kedewasaan spiritual. Sebab pengutusan gereja ke dalam dunia bukan menjadi serupa dengan dunia melainkan untuk melaksanakan kehendak Allah yang sempurna agar supaya gereja dapat menjawab kebutuhan zaman dengan iman yang tangguh dan konsistensi iman yang tidak tergoyahkan. Oleh sebab itu, sebagai gereja secara personal maupun komunal terajak untuk “Buktikan Kemurnian Imanmu” di tengah peradaban dunia sekarang ini.

PEMBAHASAN TEMATIS
 Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Berdasarkan tradisi dan anggapan umum dalam gereja bahwa penulis surat Petrus adalah rasul Petrus yang
merupakan salah satu murid Tuhan Yesus sebagaimana tercatat dalam pembukaan surat (1 Petrus. 1:1). Secara garis besar surat rasul Petrus yang pertama ini bertujuan untuk memberikan penguatan iman kepada jemaat Kristen bukan
Yahudi yang tersebar di lima provinsi dari Kerajaan Romawi yaitu Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1:1).

Ilustrasi Simon Petrus
Ilustrasi Simon Petrus (ISTIMEWA)

Isi surat ini menggambarkan suatu persitiwa yang penuh tekanan dan penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen karena iman dan pemberitaan Injil. Pada masa itu banyak orang Kristen mengalami siksaan bahkan nyawa menjadi taruhan. Tekanan dan serangan datang dari berbagai pihak, baik dari penguasa kekaisaran Romawi maupun dari kelompok masyarakat penyembah berhala yang merasa terusik dengan ajaran kekristenan.

Karena itulah pada bagian awal surat ini ditegaskan bahwa sebagai orang Kristen, mereka adalah orang pilihan Allah yang dikuduskan oleh Roh supaya taat kepada Yesus Kristus (1:2) karena oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati telah membawa pembaharuan atau kelahiran kembali bagi semua orang percaya kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, penuh kekudusan dan kekekalan. Itulah sebabnya penulisan surat ini memiliki tujuan penting agar jemaat sadar dan siap sedia dalam mengalami tantangan dan menanggung derita oleh sebab iman kepada Kristus.

Perikop bacaan ini diawali dengan pujian kepada Allah sumber rahmat dan keselamatan yang telah berkarya melalui Tuhan Yesus Kristus yang mereka imani bahwa hanya oleh anugerah Allah maka keselamatan itu dapat mereka miliki. Itulah yang dimaksud dengan suatu bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar dan tidak dapat layu (1:3-4). Konsep keselamatan inilah yang menjadi pijakan iman Kristen.

Melalui iman kepada Yesus Kristus, Allah telah memilih suatu umat untuk menikmati keselamatan di zaman akhir (1:5). Maka dari itu penulis menasihati jemaat untuk tetap bergembira (Yun: agalliao; Ingg: rejoice) sekalipun harus menjalani kenyataan hidup yang penuh dukacita dan pencobaan (1:6). Sebab sesungguhnya dibalik peristiwa derita yang dialami dalam kesementaraan waktu (seketika lamanya) telah tersedia sukacita yang mulia dan keselamatan jiwa yang merupakan warisan kekal yang tersimpan di sorga bagi setiap orang yang mampu bertahan menghadapi berbagai macam pencobaan.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved