Bom Depan Katedral Makassar
Apa itu JAD? Jamaah Ansharut Daulah Organisasi Teroris di Indonesia, Dalang Bom Katedral Makassar
JAD dibentuk pada 2015 silam oleh 21 organisasi teror yang mendeklarasikan kesetiaan pada Islamic State, seperti Majelis Indonesia Timur dan Barat,
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
Adapun saat acara yang sama, di lantai II vila, Zainal membentuk kepengurusan dan menunjuk sejumlah pemimpin JAD di berbagai wilayah di Indonesia.
JAD Aktif di media sosial
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan hal tersebut berbeda dengan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) yang lebih terstruktur di lapangan.
"JAD tidak terstruktur di lapangan, beda dengan JI yang terstruktur di lapangan. Mereka terstrukturnya secara virtual," ujar Dedi, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2019) lalu.
Ia menjelaskan kelompok JAD akan memberi kabar terlebih dahulu apabila hendak melakukan aksi amaliyah.
Kabar itu diberikan melalui media sosial, dimana Telegram menjadi salah satu media sosial yang dimanfaatkan kelompok teroris tersebut.
"Intensitas komunikasinya di media sosial terstruktur dan sistematis. Kalau mau melakukan amaliyah, mereka akan sampaikan di Telegram maupun media sosial lainnya, misalnya 'Saya akan melakukan amaliyah pada hari ini'," kata dia.
Tapi dalam komunikasinya dia tidak akan menyebutkan secara detail siapa yang menjadi targetnya termasuk waktu dan tempatnya.
"Dia cukup men-declare akan melakukan amaliyah, mohon doanya, langsung dilakukan," katanya.
Lebih lanjut, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu menuturkan bahwa aksi amaliyah yang dilakukan anggota kelompok tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing.
"Bergerak melakukan amaliyah dengan kemampuan masing-masing, kalau kemampuan membuat bom ya contohnya suicide bomber," katanya.
Mastermind JAD
Pada 2019 lalu, Mabes Polri mengungkap masih mengejar seorang terduga teroris bernama Saefullah alias Daniel alias Chaniago.
Penjaga perpustakaan Ponpes Ibnu Mas'ud itu bahkan masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO).
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan Saefullah mengendalikan dan memberi perintah kepada sejumlah terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia.
Salah satunya kepada terduga teroris N atau Novendri yang ditangkap di Padang, Sumatera Barat.
Saefullah mengarahkan N untuk mengirim uang kepada Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
"N ini ada pengendalinya, mastermind-nya saat ini atas nama Saefullah alias Daniel alias Chaniago. Yang bersangkutan sudah diterbitkan DPO oleh Densus 88 sebagai mastermind," ujar Dedi, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019).
"Saat ini yang bersangkutan diduga berada di satu wilayah di Khorasan Afghanistan. Kenapa ada di situ, (karena) pasca-kekalahan ISIS di Suriah, Al Baghdadi langsung pecah kekuatannya. Saat ini kekuatan ISIS sudah mengarah ke suatu daerah, yaitu di Khorasan Afghanistan. Ini daerah abu-abu, daerah perbatasan yang tidak bisa dikontrol oleh satu pemerintah, itu sebabnya mereka kuat di situ," imbuhnya.
Selain itu, Saefullah mengontrol beberapa pelaku yang ada di Indonesia, antara lain tersangka Yoga dari JAD Kalimantan Timur yang ditangkap Juni 2019.
Yoga sendiri berperan menggantikan Andi Baso, sebagai jembatan penghubung antara kelompok ISIS atau JAD di Indonesia dan Filipina.
Menurut Dedi, Saefullah berencana mengirimkan uang kepada Yoga untuk membeli senjata di Filipina, untuk nantinya dikirim ke Indonesia.
Saefullah juga disebut sebagai orang yang mengatur perjalanan Muhammad Aulia beserta 11 orang Indonesia lain yang berencana berangkat ke Khorasan Afghanistan.
Namun, mereka dideportasi dari Bangkok dan kemudian ditangkap Densus 88 di Bandara Kualanamu, Medan.
Terkait dengan penangkapan ratusan terduga teroris?
Juru bicara Mabes Polri, Argo Yuwono, berkata masih belum bisa memastikan apakah serangan teror yang terjadi pada rangkaian perayaan Paskah di Makassar kemarin dampak dari penangkapan ratusan terduga teroris di Indonesia sepanjang tahun ini.
Kata dia, peristiwa ini akan menjadi evaluasi tim Densus 88 Antiteror Polri.
"Ini bagian daripada evaluasi penyidik Densus nanti kita akan lihat sejauhmana yang kita lakukan penangkapan mulai dari beberapa daerah apakah ada kaitannya dengan yang ini [Makassar], nanti kita temukan setelah mendapatkan data," imbuh Argo Yuwono kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/03).
Sepanjang 2021, sudah ada ratusan teruga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror di beberapa wilayah di Indonesia.
Pada awal Januari lalu misalnya, Densus menangkap 20 terduga teroris di sebuah villa di Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanayya, Makassar.
Dari 20 orang, dua di antaranya disebut melawan sehingga ditembak anggota Densus hingga meninggal.
Menurut Polri, keduanya diketahui menyatakan berbaiat kepada ISIS pada 2015 di pondok pesantren Arridho pimpinan Basri yang meninggal di Lapas Nusakambangan.
Polri juga menyebut, mereka terlibat dalam pengiriman dana ke pelaku bunuh diri di gereja di Jolo, Filipina.
Akhir Januari, Densus kembali menangkap lima terduga teroris di Provinsi Aceh. Kelimanya diduga terlibat dalam jaringan bom Polrestabes Medan dan terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sama seperti terduga teroris yang ditangkap di Makassar.
Kemudian pada Februari, Densus menangkap sejumlah terduga teroris di Kalimantan Barat yakni Pontianak, Kubu Raya, dan Singkawang.
Masih di bulan yang sama, 22 terduga teroris ditangkap di Jawa Timur. Mereka teridentifikasi dengan Jamaah Islamiyah.
Kemudian Densus juga menangkap 22 orang terduga teroris di Jakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Puluhan orang ini diketahui berafiliasi dengan jaringan Jamaah Islamiyah.
Penangkapan tersebut merupakan hasil pengembangan operasi Densus di Jawa Timur yang juga menyita 31 kotak amal yang diduga dipakai untuk mendanai kegiatan terorisme.
Terakhir pada Maret, satu terduga teroris ditangkap di sebuah perumahan di Kabupaten Tangerang, Banten. (Aldi Ponge/Rhendi Umar/Tribunmanado/tribunnews.com)
SUMBER SEBAGIAN: