Breaking News:

Kudeta Myanmar

Pengakuan Polisi Myanmar, Diperintah Tembak & Siksa Demonstran: Saya Tak Bisa Tembak Bangsa Sendiri

Ada beberapa aparat yang tak tega untuk melakukan kekerasan pada pendemo lebih memilih untuk membangkang.

Editor: Ventrico Nonutu
Dok: Twitter @CardinalMaungBo
Seorang Suster di Myanmar, Ann Nu Thawng, menangis dan bersujud demi untuk melindungi pendemo dari polisi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Aksi demonstrasi menentang kudeta di Myanmar masih terus berlangsung.

Dalam demo tersebut telah mengakibatkan banyak korban tewas.

Untuk melawan para pendemo, pihak militer Myanmar tak ragu lagi menggunakan kekuasaan.

Baca juga: Tak Yakin Moeldoko Berani Jadi Ketum Partai Demokrat, Amien Rais Singgung Sosok Lurah

Baca juga: DAFTAR Wilayah yang Dapat Peringatan Dini BMKG Besok Senin 15 Maret 2021, 23 Provinsi Cuaca Ekstrem

Tindakan keras aparat inilah yang membuat warga pendemo menjadi korban.

Namun, beberapa aparat yang tak tega untuk melakukan kekerasan pada pendemo lebih memilih untuk membangkang.

Para polisi Myanmar mengungkapkah momen mereka membangkang dari atasan mereka, dan mengungsi ke India.


(Foto: Suster Ann Roza Nu Tawng, seorang biarawati di Myitkyina, Myanmar, berlutut di hadapan sejumlah aparat yang juga ikut berlutut. Suster Ann Roza memohon kepada aparat Myanmar agar tak menembaki para pengunjuk rasa pada Senin, 8 Maret 2021. Namun, terdengar tembakan dengan dua orang dikonfirmasi tewas.)

Kepada Sky News, penegak hukum yang mencari suaka itu mengatakan mereka diperintahkan menembak dan menyiksa demonstran.

"Saya tak bisa menembak bangsa saya sendiri, atau menyiksa orang yang jelas tak berbuat kejahatan," kata salah satunya.

Polisi yang berusia 26 tahun mengatakan, pengunjuk rasa itu tidak bersalah.

Halaman
123
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved