Breaking News:

Minggu Sengsara 2

RENUNGAN ALKITAB - “Penataan Persekutuan adalah Cerminan Kualitas Pelayanan”

GMIM disebut Gereja yang misioner dan besar sehingga pada tahun 2021 ini akan memasuki dan merayakan 87 tahun bersinode.

ilustrasi 

MTPJ 28 Februari – 6 Maret 2021(Minggu Sengsara II)
TEMA MINGGUAN : “Penataan Persekutuan adalah Cerminan Kualitas Pelayanan”
TEMA BULANAN :“Efektifitas Penatalayanan”

BACAAN ALKITAB: Nehemia 7:61-73

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ilustrasi renungan
Ilustrasi renungan (internet)

GMIM disebut Gereja yang misioner dan besar sehingga pada tahun 2021 ini akan memasuki dan merayakan 87 tahun bersinode. Memiliki 127 Wilayah. Jemaat 1010, kolom 10.726. Pendeta 2.223 orang Penatua dan Syamas 26.214, GA 254, Jumlah KK 229.813. Anggota Jemaat 803.686 (data 2019 + awal 2020) membutuhkan penatalayanan yang efektif.

Penatalayanan adalah tanggungjawab Gereja me-nyangkut segala pekerjaan untuk mengurus atau mengatur kegiatan pelayanan secara bertanggungjawab. Penatalayanan juga adalah suatu sistem dan proses pelayanan gereja dalam menatalayani segala sumber daya dan dana secara baik dan teratur. Sedangkan kata efektifitas adalah segala kegiatan yang terarah, berjalan baik dan berhasil serta dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk mempersiapkan GMIM ke depan apalagi meng-hadapi: Rencana Pelaksanaan Sidang Majelis Sinode juga persiapan tahun 2021 sebagai tahun persiapan Pemilihan Pelsus, dimana Jemaat, Wilayah sampai ke Sinode akan mengikuti tahapan-tahapan antara lain Sensus, Penataan kolom dan lain-lain. Tetapi juga untuk terus menjadi Gereja yang sehat seperti ungkapan-ungkapan ketua BPMS Pdt. DR. Hein Arina dalam beberapa pertemuan maka tema ini di pilih untuk menjadi perenungan kita di minggu berjalan ini yaitu: “Efektifitas Pelayanan”. Tema ini menggerakkan kita untuk memahami kenapa gereja memerlukan aturan atau Tata Gereja, dan Pelayan Khusus GMIM terikat dengan aturan-aturan baik sebelum melaksanakan tugas maupun sementara melaksanakan tugas pelayanan.

Baca juga: Promo Indomaret 28 Februari 2021, Harga Hemat Deterjen hingga Beras, Cek Katalog di Sini

Baca juga: BACAAN ALKITAB - Arak-arakan Menuju Yerusalem

PEMBAHASAN TEMATIS
 Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Nehemia adalah seorang Yahudi yang dipekerjakan Raja Artahsasta di Puri Susan. Mendapat pekerjaan yang terhormat sebagai juru minum raja tidak membuat ia lupa jati dirinya. Mendengar berita tembok Yerusalem sudah di hancurkan dan pintu-pintu gerbangnya dibakar membuat Nehemia sangat sedih.

Kesedihannya tidak dapat ia sembunyikan dan ketika melayani raja ia menyampaikan kerinduannya kepada raja untuk membangun tembok dan pintu kota Yerusalem. Walau pun pada awalnya mendapat tantangan dan perlawanan dari beberapa pihak, tetapi posisi sebagai utusan raja dan bekal surat pengantar raja Artahsasta rencana itu berjalan dengan baik. tetapi juga sangat penting Nehemia bergumul membawa semua dalam doa dan puasanya di hadapan Tuhan (Band. Ezra 10). Berdoa siang malam. Akhirnya doanya dikabulkan Tuhan, ia bersama saudara-saudaranya dapat menyelesaikan pemba-ngunan pintu-pintu gerbang dan tembok kota Yerusalem.

Pembacaan Alkitab kita Nehemia 7:61-73 adalah kesaksian dimana upaya-upaya selanjutnya oleh Nehemia setelah pembangunan itu selesai. Keadaan kota sudah aman dan sekarang mengisi kota itu dengan orang-orang yang akan mendiaminya. Kehadiran kota Yerusalem di pahami sebagai kehadiran pemerintahan Allah, karena itu yang mendiami kota haruslah orang-orang atau keluarga-keluarga yang siap mengikuti pemerintahan Allah.

Kemurnian Israel harus dikem-balikan. Berdasarkan hal itu Nehemia membuat penelitian terhadap keluarga-keluarga, asal usul masing-masing keluarga yang akan masuk ke Yerusalem. Kehidupan keluarga Israel ketika terjadi pembuangan dan ketika kota Yerusalem hancur tidak aman, mereka tinggal di kota-kota sekitar, seperti Tel-Melah, Tel-Harsa dan lain-lain. Bertahun-tahun kawin campur yang berakibat sinkritisme tidak dapat dihindari. Nehemia menuntut kemurnian hidup Israel yang akan mendiami kota Yerusalem.

Ayat 61-65 ketika di teliti mereka yang akan masuk mendiami kota-kota Yerusalem, beberapa kelompok keluarga disebut Bani atau keturunan tidak dapat menemukan asal usul mereka sebagai orang Israel. Bahkan di antara mereka, tidak jelas asal usulnya ternyata bertugas sebagai Imam.

Halaman
12
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved