Selasa, 14 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Minggu Sengsara 2

RENUNGAN ALKITAB - “Penataan Persekutuan adalah Cerminan Kualitas Pelayanan”

GMIM disebut Gereja yang misioner dan besar sehingga pada tahun 2021 ini akan memasuki dan merayakan 87 tahun bersinode.

Editor: Aswin_Lumintang

MTPJ 28 Februari – 6 Maret 2021(Minggu Sengsara II)
TEMA MINGGUAN : “Penataan Persekutuan adalah Cerminan Kualitas Pelayanan”
TEMA BULANAN :“Efektifitas Penatalayanan”

BACAAN ALKITAB: Nehemia 7:61-73

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ilustrasi renungan
Ilustrasi renungan (internet)

GMIM disebut Gereja yang misioner dan besar sehingga pada tahun 2021 ini akan memasuki dan merayakan 87 tahun bersinode. Memiliki 127 Wilayah. Jemaat 1010, kolom 10.726. Pendeta 2.223 orang Penatua dan Syamas 26.214, GA 254, Jumlah KK 229.813. Anggota Jemaat 803.686 (data 2019 + awal 2020) membutuhkan penatalayanan yang efektif.

Penatalayanan adalah tanggungjawab Gereja me-nyangkut segala pekerjaan untuk mengurus atau mengatur kegiatan pelayanan secara bertanggungjawab. Penatalayanan juga adalah suatu sistem dan proses pelayanan gereja dalam menatalayani segala sumber daya dan dana secara baik dan teratur. Sedangkan kata efektifitas adalah segala kegiatan yang terarah, berjalan baik dan berhasil serta dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk mempersiapkan GMIM ke depan apalagi meng-hadapi: Rencana Pelaksanaan Sidang Majelis Sinode juga persiapan tahun 2021 sebagai tahun persiapan Pemilihan Pelsus, dimana Jemaat, Wilayah sampai ke Sinode akan mengikuti tahapan-tahapan antara lain Sensus, Penataan kolom dan lain-lain. Tetapi juga untuk terus menjadi Gereja yang sehat seperti ungkapan-ungkapan ketua BPMS Pdt. DR. Hein Arina dalam beberapa pertemuan maka tema ini di pilih untuk menjadi perenungan kita di minggu berjalan ini yaitu: “Efektifitas Pelayanan”. Tema ini menggerakkan kita untuk memahami kenapa gereja memerlukan aturan atau Tata Gereja, dan Pelayan Khusus GMIM terikat dengan aturan-aturan baik sebelum melaksanakan tugas maupun sementara melaksanakan tugas pelayanan.

Baca juga: Promo Indomaret 28 Februari 2021, Harga Hemat Deterjen hingga Beras, Cek Katalog di Sini

Baca juga: BACAAN ALKITAB - Arak-arakan Menuju Yerusalem

PEMBAHASAN TEMATIS
 Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Nehemia adalah seorang Yahudi yang dipekerjakan Raja Artahsasta di Puri Susan. Mendapat pekerjaan yang terhormat sebagai juru minum raja tidak membuat ia lupa jati dirinya. Mendengar berita tembok Yerusalem sudah di hancurkan dan pintu-pintu gerbangnya dibakar membuat Nehemia sangat sedih.

Kesedihannya tidak dapat ia sembunyikan dan ketika melayani raja ia menyampaikan kerinduannya kepada raja untuk membangun tembok dan pintu kota Yerusalem. Walau pun pada awalnya mendapat tantangan dan perlawanan dari beberapa pihak, tetapi posisi sebagai utusan raja dan bekal surat pengantar raja Artahsasta rencana itu berjalan dengan baik. tetapi juga sangat penting Nehemia bergumul membawa semua dalam doa dan puasanya di hadapan Tuhan (Band. Ezra 10). Berdoa siang malam. Akhirnya doanya dikabulkan Tuhan, ia bersama saudara-saudaranya dapat menyelesaikan pemba-ngunan pintu-pintu gerbang dan tembok kota Yerusalem.

Pembacaan Alkitab kita Nehemia 7:61-73 adalah kesaksian dimana upaya-upaya selanjutnya oleh Nehemia setelah pembangunan itu selesai. Keadaan kota sudah aman dan sekarang mengisi kota itu dengan orang-orang yang akan mendiaminya. Kehadiran kota Yerusalem di pahami sebagai kehadiran pemerintahan Allah, karena itu yang mendiami kota haruslah orang-orang atau keluarga-keluarga yang siap mengikuti pemerintahan Allah.

Kemurnian Israel harus dikem-balikan. Berdasarkan hal itu Nehemia membuat penelitian terhadap keluarga-keluarga, asal usul masing-masing keluarga yang akan masuk ke Yerusalem. Kehidupan keluarga Israel ketika terjadi pembuangan dan ketika kota Yerusalem hancur tidak aman, mereka tinggal di kota-kota sekitar, seperti Tel-Melah, Tel-Harsa dan lain-lain. Bertahun-tahun kawin campur yang berakibat sinkritisme tidak dapat dihindari. Nehemia menuntut kemurnian hidup Israel yang akan mendiami kota Yerusalem.

Ayat 61-65 ketika di teliti mereka yang akan masuk mendiami kota-kota Yerusalem, beberapa kelompok keluarga disebut Bani atau keturunan tidak dapat menemukan asal usul mereka sebagai orang Israel. Bahkan di antara mereka, tidak jelas asal usulnya ternyata bertugas sebagai Imam.

Karena tujuan penelitian Nehemia bukan dalam rangka diskriminasi untuk menyingkirkan, tetapi penataan untuk kemur-nian Israel, maka mereka (Imam) yang tidak jelas asal usulnya di putuskan tidak boleh makan dari persembahan maha kudus, tetapi ada peluang ke depan dengan pengujian menggunakan Urim dan Tumim. Urim dan Tumim kata urami yang berarti terang dan kesempurnaan. Ini adalah benda yang merupakan medium/alat yang dikaitkan pada jubah Imam besar sewaktu-waktu jika diperlukan pencerahan ilahi dengan menggunakan medium ini dapat diperoleh. Orang Yahudi percaya bahwa melalui medium Urim dan Tumim hak-hak Israel apabila di sangsikan atau terancam dapat di pulihkan (bad. Kel. 28:30, Bilangan 27:21, I Samuel 28:6, I Samuel 14:41).

Pentingnya silsilah bagi Israel melalui penataan Nehemia untuk menjaga kemurnian Israel. Dari penelitian ini di dapati: Ada yang termasuk keturunan Israel karena dapat dibuktikan/diketahui tempat asalnya (ayat 26-27). Ada yang diketahui nenek moyang mereka (7:43-56). Ada juga kelom-pok yang tidak jelas.

Jabatan Imam adalah hal yang penting dalam kehidupan orang Yahudi. Identitas Imam menjadi faktor yang sangat penting untuk diteliti. Kemurnian hidup seorang Imam menjadi gambaran kemurnian hidup umat.
Ayat 66-72 mencantumkan jumlah/angka baik itu dalam hubungan dengan orang/umat, para Imam, budak, penjaga/ penunggu pintu, profesi sebagai penyanyi tetapi juga jumlah harta yang dimiliki mereka yang akan masuk mendiami kota Yerusalem, hal ini menggambarkan kesungguhan dan ketelitian Nehemia menata kehidupan orang Israel.

Pemberian dalam bentuk sumbangan/persembahan adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Israel. (Band. Keluaran. 23:17, Ulangan. 26: 1,2) ketika memasuki Kota Yerusalem para kepala kaum keluarga Israel juga memberikan sumbangan. Ada yang memberi untuk pekerjaan bangunan tetapi ada juga yang memberi untuk perbendaharaan rumah tukang, dan ada yang memberi untuk keperluan dan pakaian Imam.

Mereka yang memberi dicatat oleh Nehemia. Ada kepala kaum keluarga, ada kepala daerah (Pejabat) ada orang orang lain. Catatan ini memberi kesaksian: Baik secara persekutuan keluarga, dalam hubungan dengan jabatan bah-kan pun simpatisan, terpanggil bertanggungjawab untuk memberi dengan ketulusan hati.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved