Berita Tomohon
39 Tahun Gantungkan Hidup Sebagai Petani Cap Tikus, Joni Lensun Sekolahkan Anak hingga Jadi Guru
Tak selamanya mendengar kata Cap Tikus langsung terkait dengan stigma negatif.
Penulis: Hesly Marentek | Editor: David_Kusuma
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Tak selamanya mendengar kata Cap Tikus langsung terkait dengan stigma negatif.
Minuman beralkohol tradisional yang menjadi ciri khas Minahasa Sulawesi Utara ini, juga menjadi berkah tersendiri bagi para petani.
Joni Lensun misalnya, Pria asal Kelurahan Taratara Satu, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon ini sudah menikmati keuntungan menjadi petani cap tikus.
Baca juga: Gadis Cantik Wanda Salmon Berharap Vaksinasi Covid-19 Bisa Merata
Baca juga: Mayat Ditemukan Mengapung di Laut, Berawal dari Penemuan Perahu Kecil, Mesin Hidup Tanpa Awak
Baca juga: Sosok Iskandar Kamaru, Dilantik Jadi Bupati Bolsel, Pernah Magang di Jepang
Separuh lebih hidupnya dihabiskan untuk menggeluti pekerjaan sebagai petani cap tikus.
"Sudah 39 tahun saya menjadi petani cap tikus. Itu dihitung saat saya kawin langsung bekerja sebagai pembuat cap tikus.
Bulan Oktober tahun ini genap 40 tahun HUT pernikahan kami," katanya Joni yang saat ini berusia 62 tahun dan masih eksis melakukan penyulingan di sabuah miliknya.

"Banyak teman yang seprofesi sudah berhenti. Mungkin saat ini saya tergolong tua tapi masih melakukan penyulingan," tambahnya.
Bagi Joni, sejak 39 tahun lalu, dirinya bersama istri Rut Piring, betul-betul menggantungkan hidup sebagai petani cap tikus dan tidak mempunyai usaha atau pekerjaan lain.
Baca juga: Usai Divaksin, Ketua DPRD Bitung Pesan Ini ke Warga
Baca juga: Sosok Iskandar Kamaru, Dilantik Jadi Bupati Bolsel, Pernah Magang di Jepang
Namun berkah minuman hasil fermentasi dan distilasi Air Nira dari Pohon Aren tersebut, Joni dan Rut mampu menyekolahkan anak.
Bahkan hingga kuliah dan menjadi seorang guru.
"Dari hasil ini kami bisa sekolahkan anak. Malah mereka kuliah dan salah satu saat ini sudah menjadi Guru," ungkap Ayah dua anak ini.
Baca juga: Investasi Minuman Beralkohol Banyak Peminat, Peluang Bagus Petani Cap Tikus
Baca juga: Pintu Investasi Industri Minuman Beralkohol Dibuka, Petani Cap Tikus Asal Tara-tara Bersyukur
Saat ini dalam sehari Joni mampu menghasilkan hingga 20 botol cap tikus.
Hasil penyulingan tersebut nantinya dijual dengan harga Rp 15 ribu per botol.
"Biasanya hanya warung atau kios sekitar yang ambil. Tapi juga tak jarang ada yang pesan untuk dikonsumsi pribadi," ujarnya lalu menambahkan keuntungan per hari bisa dapat Rp 300 ribu.
"Karena kalau saya jual ke warung atau kios itu per Botolnya Rp 15 ribu," tambah Joni.
Baca juga: Doa Malam Kristen, 6 Contoh Kumpulan Doa Memohon Pemeliharaan dan Perlindungan Tuhan
Baca juga: Sulut Populer: Tawa Lepas Franky Wongkar | Sosok Istri Para Bupati dan Wali Kota di Sulut